*REFLEKSI SEJARAH
KONGREGASI
|
Benih Awal sudah Kutemukan
|
Sang Pejuang
|
Pengorbanan menuju Kebahagiaan
|
Pemimpin yang Tangguh
|
Pengorbanan adalah Kasih dan
Kasih adalah
Pengorbanan -1
|
Pengorbanan adalah Kasih dan
Kasih adalah
Pengorbanan -2
|
Perjuangan yang membawa Berkat
|
Serigala-serigala Mengerkah
|
Berhati Emas
|
Jadilah KehendakMu
|
Salib Tuhan adalah sebuah
Perjuangan
|
*REFLEKSI TRIHARI SUCI
|
*REFLEKSI
PENGALAMAN PESTA DEMOKRASI PILPRES 2019
|
*KRONIK
*DAFTAR ULANG TAHUN |
“Salam Redaksi”
Salam jumpa lagi dalam Lavita Dolce edisi 139 Bulan Maret dan April 2019. Lavita Dolce kali ini para novis merefleksikan tentang benih awal dari para suster dalam memimpin Kongregasi dengan Kharisma dan Spiritualitas Kongregasi yang sampai saat ini tetap di hidupi oleh para suster, dan kami tunas-tunas muda Kongregasi, Khususnya Novis tahun kedua yang mendalami sejarah Kongregasi melalui dua pekan bersama dengan Sr. Jeanne Turangan, SJMJ. Dan juga berisi refleksi Trihari Suci dari para novis dalam menyambut kebangkitan Kristus serta pengalaman Pesta Demokrasi Pilpres 2019.
Dari Tim Redaksi, Mengucapkan: “SELAMAT HARI RAYA PASKAH 2019”.
SELAMAT MEMBACA!!!
Moderator : Sr. Jeanne Turangan, SJMJ, Sr.
Nirmala, SJMJ,
Sr.
Sisilia Sisilianingsih, SJMJ
Sr.
Hildegardis Mau, SJMJ
Ketua Redaksi : Sr. Debora Jeisye
Editor : Sr.Fransiska Nahas, Sr. Debora Jeisye
Lay Out : Sr. Agatha Iluh, Sr. Rosalina
Ilustrator : Sr. Virginia Mandang
Alamat Redaksi : Novisiat SJMJ “REGINA CAELI” JL. P. L
Kaunang No. 308
Tomohon
95442 SULAWESI UTARA
|
Refleksi sejarah kongregasi
|
Benih Awal Sudah Kutemukan
Sr. Francilia Petra Gareso
Tidak terasa pekan Sejarah, Kharisma dan Spiritualitas Kongregasi dapat saya jalani. Awalnya dengan modal membaca buku dokumen Kongregasi dapat memberikan data mengenai masa lampau Kongregasi, namun setelah digali dan didalami ada begitu banyak peristiwa, perjuangan hidup, dan kata-kata dari setiap tokoh sejarah pejuang Kongregasi yang sangat menginspirasi saya. Mereka semua kini telah menjadi mawar-mawar indah di surga.
Bagi saya pribadi, ketika saya mendalami kepribadian dari Pater Wolff, sungguh sangat menyentuh hati kecil saya. Pribadi Pater Wolff yang sangat berkharisma mendorong saya untuk menelusuri dan menerobos kenyamanan diri, berani untuk keluar dari zona nyaman dalam diri sehingga saya boleh memiliki semangat dan jiwa juang untuk mengarungi hidup panggilan dalam Kongregasi SJMJ. Pengalaman ditolak dan tidak diterima telah dialami dan dilalui oleh Pater Wolff dan para suter pendahulu.
Kini, benih itu sudah mulai tumbuh dan menghasilkan buah-buah yang manis, melalui karya pendidikan, karya kesehatan, karya sosial pastoral yang telah banyak menghasilkan dan menyelamatkan jiwa-jiwa. Ada pengalaman jatuh, namun Tuhan tidak pernah membiarkan situasi itu terus diarungi, karena setiap tantangan masih ada secerca harapan yang menanti. Seperti kata Pater Wolff : “Benih awal sudah kutemukan, namun dimana mereka harus kusemaikan?” . Kata-kata inspirasi ini memberi gambaran kepada saya, untuk tidak mematikan benih yang sudah ditanam itu dan kini telah banyak menghasilkan buah-buah yang manis. Begitu pula ketika saya melihat kedalam diri saya sendiri, bahwa benih panggilan telah Tuhan tanam di dalam diri saya, saya disemaikan dalam Kongregasi SJMJ dan kini saya ditanam dalam rumah pembinaan, saya disiram dan dirawat melalui teguran, sapaan, nasehat kedua suster pembimbing dan teman-teman sekomunitas. Pengalaman ini menjadi tantangan awal bagi saya untuk semakin mengenal diri, menerima diri, serta membentuk mental saya. Namun semua yang saya lalui dan lewati akan menjadi indah untuk dikenang, dibalik awan kelabu pasti akan adapula awan putih, mentari pasti akan datang memancarkan sinarnya, benih yang telah ditanan, pasti akan tumbuh dan berkembang.
Banyak hal yang bisa saya pelajari dari setiap tokoh-tokoh sejarah, pribadi-pribadi kepemimpinan yang muncul dalam membangun Kongregasi, meski melewati banyak tantangan, namun sampai saat ini, Kongregasi masih tetap jaya melalui kharisma dari pater pendiri. Kharisma adalah warisan yang tidak dapat diukir dan dilukiskan dalam sebuah buku, tetapi kharisma menjadi warisan mulia dan luhur yang dimiliki oleh pribadi-pribadi yang terbuka dalam karya penyelenggaraan Roh. Kesalehan, periang, penuh humor, kaya imajinasi, pantang menyerah, pekerja keras, menyadari akan kebutuhan zaman, penuh inisiatif, masa depan dihadapi dengan hati tenang, taat dan pendoa adalah kharisma yang dimiliki oleh Pater Wolff. Bagi saya memang tidaklah mungkin saya menjadi seorang yang memiliki kharisma itu, namun sebagai seorang yang mengikuti dan menghayatinya saya harus menuntut diri saya untuk bisa memiliki semangat yang sama. Perjuangan dalam tahap pembinaan, dimulai dari hal-hal yang kecil, dengan lebih mengutamakan kepentingan orang lain, melayani sesama, dan berusaha untuk tetap setia membahagiakan dan melakukan yang terbaik bagi orang lain.
Ada begitu banyak peristiwa yang dialami oleh Pater Pendiri dan para suster pendahulu yang terlukis indah melalui perjuangan yang kini menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi saya untuk melestarikan dan mengembangkan Kongregasi. Tunas muda adalah pemegang tongkat estafet masa depan Kongregasi, dan saat ini saya bersyukur karena saya dapat menyaksikan satu peristiwa yang sangat bersejarah dengan berdirinya Kongregasi yang baru. Benih itu kini terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang melimpah, melalui para suster yang terus berkarya dan mengembangkan sayap untuk pelayanan bagi siapa saja seperti yang terlukis dalam lukisan ‘Pedagogie Chretienne’.
“Sang Pejuang”
Pater Mathias Wolff, SJ
Sr. Klarisa Margaretha Ronga
‘Permulaan yang sulit justru menjadi modal yang kuat untuk dapat menyelenggarakan karya Kasih Tuhan.’
Selama mendalami kharisma dan Spiritualitas, baik Pater Pendiri dan Para Suster Pendahulu membuat saya semakin memotivasi panggilan saya. Dimana saya secara pribadi harus mampu memiliki semangat yang sama seperti Pater Wolff, yang dengan penuh kegembiraan dan semangat meskipun menghadapi banyak kesulitan mampu mendirikan kongregasi yang sampai saat ini selalu berkembang.
Pater Mathias Wolff, sang Serigala Yang Menerkam memiliki kepribadian yang sangat luar biasa, bersemangat, seorang pendoa, selalu mengandalkan Tuhan, seorang yang riang gembira, penuh humor, cerdas, punya imajinasi yang kuat, pekerja keras, pantang menyerah, selalu mengerti dinamika hidup, menyadari kebutuhan zaman, bertanggung jawab, selalu menerima tantangan, dan selalu mempunyai banyak jalan untuk mencapai tujuan.
Meskipun menghadapi banyak tantangan dan kesulitan tetapi dengan semangat juang yang tinggi dan selalu mengandalkan Tuhan, Pater Mathias Wolff mampu mendirikan kongregasi yang tetap hidup sampai saat ini. Secara batiniah Pater Wolff dicengkram oleh Allah dan dalam hatinya ia punya hati suci yang mempengaruhi segala karya lahiriah dan mendorongnya untuk dalam segala hal melulu mencari Kemuliaan Allah. Bagi Pater Wolff Tantangan adalah Karya Allah yang selalu bekerja didalam dirinya, lewat kepribadian dan semangat dari Pater Wolff ada begitu banyak teladan yang ia berikan untuk semua anggota kongregasi terlebih saya sendiri yang baru memulai untuk hidup dalam kongregasi.
Saya sendiri dalam perjalanan hidup panggilan ini harus berusaha untuk menjadi seorang suster yang baik. Memang tidak mudah, tetapi saya selalu beusaha untuk mencapai kesempurnaan itu meskipun jatuh bangun. Saya menyadari dengan sikap penyerahan diri kepada Allah, sikap kerendahan hati, setia, taat, dan keberanian saya mampu untuk menjadi seorang suster yang baik, terlebih ketika saya menjadi seorang yang terbuka,dan selalu menyadari kelemahan yang ada dalam diri saya, tidak memikirkan diri sendiri, saat itulah saya mampu untuk menyerahkan diri saya secara total kepada Allah melayani sesama dengan penuh sukacita dan kegembiraan.
‘Saya pergi, saya lari, saya meloncat kedalam kebebasan, bahwa saya boleh mengikuti panggilan saya’
(AD MAIOREM DEI GLORIAM)
“Ad Astra Per Aspera”
(Pengorbanan Menuju Kebahagiaan)
Sr. Elisabeth Frayntiana Mo’a
Puji syukur kepada Tuhan atas berkat yang senantiasa kami rasakan sehingga kami novis tahun ke II boleh menyelesaikan pekan sejarah, kharisma dan spiritualitas Kongregasi dengan baik seturut kehendak-Nya sendiri. Sekarang saatnya untuk mempraktekkannya dalam kehidupan saya, karena tanpa tindakan nyata maka sia-sia saja mendalami sejarah, kharisma dan spiritualitas Kongregasi. Untuk memulai sesuatu hal yang baru, yang mungkin pandangan dunia sangat mustahil, apa lagi hal yang baru itu demi banyak orang, seringkali butuh pertimbangan yang besar dan percaya diri, usaha, niat yang suci dan terutama doa yang kuat, landasan iman yang kokoh dan percaya bahwa Allah selalu merestui setiap niat suci yang akan kita lakukan. “In our nothingness God bring fullness”.
Seperti yang di alami Paer Mathias Wolff, SJ, bapa pendiri kita yang memiliki Kharisma dan Spiritualitas yang kuat dan besar yang ia laksanakan dalam membangun Kongregasi. “Di ibaratkan seperti seorang petani yang membuka kebunnya yang baru dibeli penuh dengan rumput dan semak belukar, sehingga sedikit sulit untuk di bersihkan, supaya mendapat hasil yang baik untuk benih-benihnya”.
“Karena Tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota ( 1 Kor 12:14)”. Allah yang mengutus Roh Kudus, dan Roh Kudus bekerja dan berkarya dalam diri P. Wolff, sehingga bersama Roh Kudus itu pula P. Wolff membangun Kongregasi dengan anggota-anggota yang siap bekerja bagai “RAKSASA” yang tubuhnya adalah Kristus sendiri, dimana anggota yang satu menbutuhkan anggota yang lain dan salin mendukung untuk menolong banyak orang, terutama orang miskin, yang harus di lewati melalui proses yang panjang, tantangan yang banyak agar Kongregasi semakin berkembang, percaya diri, dan menghasilkan buah yang baik. “Ad Astra Per Aspera”
“Tujuan saya bukan untuk menjadikan kamu putri-putri Kristen, “Tidak” saya mau agar kamu menjadi Religius sempurna” kata-kata P. Wolff ini sangat menyentuh saya dan memotivasi saya agar saya tetap setia dalam panggilan dan harus Berani mewartakan kasih Allah dalam kerendahan hati menjalani Visi P. Mathias Wolff, SJ, demi perluasan kerajaan Allah (Ad Maiorem Dei Gloriam). Dan saya sebagai benih yang siap di tanam di dalam komunitas banyak hal yang akan saya hadapi, kesulitan dan tantangan dari dalam maupun dari luar, saya harus benar-benar menanamkan kharisma dan spiritualitas Pater pendiri sebagai motivasi saya, sehingga kharisma dan spiritualitas pendiri tidak hanya perlu di pelihara, tetapi juga dialami, digali, dan di kembangkan, tetap diperkaya.
Perjuangan yang Membawa Berkat
Sr. Meylani Wondal
Syukur bagi-Mu ya Tuhan karena atas kebaikanMu sehingga kami novis tahun ke-II boleh meneyelesaikan pekan kami, dalam membaca dan merenungkan Sejarah, Kharisma dan Spiritualitas Kongregasi.
Sejak awal berdirinya Kongregasi, Pater Mathias Wolff, SJ dan para suster sendiri mendapat banyak tantangan dan kesulitan melalui berbagai peristiwa yang muncul, namun mereka tetap sabar dan tekun. Melalui penghayatan hidup mereka semakin memperkuat motivasi panggilan saya untuk lebih bekerja keras, taat dan yakin akan kasih dan penyelenggaraan Ilahi. Melalui kasaksian dan perjuangan hidup dari P. Mathias Wolff, SJ dan para suster pendahulu pula Kongregasi sampai saat ini tetap berdiri dan hidup dalam memberikan pelayanan lewat karya kerasulan yang ada.
Benih yang ditaburkan oleh Tuhan merupakan tanda kehadiran Allah lewat Kongregasi JMJ untuk memancarkan cahaya kasih di dalam kebun anggur Tuhan yang luas. Sayapun secara pribadi sebagai tunas muda yang bertumbuh dalam Kongregasi membangun sebuah niat untuk melanjutkan karya keselamatan Allah yang telah dimulai oleh P. Mathias Wolff, SJ dan para suster pendahulu lewat bimbingan Roh Kudus untuk menumbuhkan benih baru dalam Gereja dan Kongregasi. Mendalami barbagai karakter baik dari Pater Wolff maupun para suster merupakan berkat tersendiri bagi saya karena mendapat lebih banyak pengetahuan tentang cara hidup yang baik dalam hidup membiara, juga menghantar saya semakin mengagumi dan mencinta Tuhan.
Secara khusus saya mendalami cara hidup dari Moeder Clara Lantman yang adalah Pemimpin Umum ke-II sesudah Moeder Mathia pada Periode Kedua tahun 1840-1875. Menjadi seorang pemimpin sejak abad pertengahan, dengan melewati penolakan, zaman perang maupun pergolakan, masa revolusi dan reformasi, untuk seorang perempuan tidaklah mudah, namun dengan jiwa berani dan dengan penyerahan diri secara total kepada Tuhan, Moeder Clara Lantman dapat memahkodai kapal Kongregasi dengan baik melalui bimbingan Tuhan dan dengan mengahayati Kharisma dan Spiritualitas Pater Pendiri. Saya pun merefleksikan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang dibutuhkan adalah Kerendahan Hati dan Kejujuran agar dengan sendirinya akan muncul dalam diri kita sikap bertanggung jawab dan bijaksana. Melalui Moeder Clara pula, saya belajar untuk meningkatakan hidup doa dan percaya bahwa Allah berkarya dalam diri saya. Hidup yang saat ini sedang saya jalani adalah semata-mata hanya untuk mencari kemuliaan Tuhan.
‘’AD MAIOREM DEI GLORIAM’’
Pemimpin yang Tangguh
Sr. Susana Sueng
“Tuhan jika saya masih boleh mengabdiMU saya tidak akan menolak pekerjaan itu, walaupun itu masih berlangsung 20 tahun”
Kalimat dan kata – kata di atas sungguh sangat reflektif dan mendalam, ini adalah kalimat yang dilontarkan oleh Moeder Adrienne Pijpers sendiri, setelah di pilih menjadi pimpinan umum konggregasi untuk yang pertama kalinya pada 11 November 1856. Tentu banyak hal yang perlu dan harus saya teladani baik dari kepribadian, sikap, tutur kata serta cara hidup dari seorang Moeder Adrienne Pijpers yang sangat terkenal arif dan bijaksana dalam cara kepemimpinannya. Moeder Adrienne Pijpers dianugerahi karakter / sikap yang luar biasa yaitu beliau orang yang sangat tangguh, sabar, ramah,lemah - lembut, berani, disipilin, konsisten, riang, terbuka, tegar dalam menghadapi kesulitan hidup, semangat kerjanya kuat. Setelah membaca dan mendalami tentang kepribadian dari Moeder Adrienne Pijpers, saya sendiri sangat tertarik dengan teladan hidupnya, saya pun mau menjadi pribadi yang tangguh. Meskipun tantangan datang silih berganti menyapa hidup panggilanya namun beliau tetap berdiri kokoh kuat. Tantangan dan kesulitan bukanlah sebagai penghalang dan penghambat melainkan sarana dari Tuhan yang mengajarkan saya untuk mampu bersikap dewasa terhadap tantangan itu sendiri. Sikap dewasa adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap pribadi terlebih untuk seorang religius termasuk saya. Saya harus mampu bersikap dewasa dalam menanggung segala sesuatu seperti Moeder Adrienne sejak masa pembinaan beliau telah mendapat tantangan yang cukup berat akibat sikap angkuh dari Moeder Mathia waktu menjadi pimpinan umum. Tantangan yang ada tidak menjadi surut semangat panggilannya, justru ia dengan semangat melalui semua kesulitan–kesulitan itu, sampai kesulitan itu menyerah padanya, sikap yang baik itu pun menjadi buah yang manis yang tidak hanya di rasakan sendiri tetapi juga oleh seluruh anggota konggregasi dimana kelak ia menjadi pimpinan konggregasi yang sungguh arif dan bijaksana selama 20 tahun.
Saya belajar menjadi buah yang manis untuk orang lain, mulai dari hal – hal yang sederhana terlebih dalam rumah pembinaan mulai dari sikap, tutur kata saya terhadap sesama, tidak menjadi beban untuk orang lan, tahu membawa diri dan berusaha untuk hidup mandiri dan beridiri di kaki sendiri, mengerjakan segala sesuatu dengan tulus tanpa bersungut – sungut melihat semuanya sebagai pengabdianku kepada Allah.
Kerja keras dan usaha yang baik akan mengantar kita kegerbang keberhasilan, menjadi orang yang berhasil adalah idaman dari setiap manusia, tetapi banyak manusia yang berhasil tidak mampu bersikap rendah hati, itulah sikap manusiawi. Namun disinilah letak keunggulan menjadi seorang religius yaitu: ketika dia berhasil dia pun mampu bersikap rendah hati seperti Moeder Adrienne, dia seorang yang rendah hati, memimpin teman susternya dengan rendah hati, dia tidak menganggap diri penting yang harus di hormati, melainkan menganggap dirinya sebagai utusan Tuhan.
Saya pun belajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati, tidak menganggap diri lebih dari orang lain, segala yang saya miliki baik bakat, kemampuan dan talenta adalah anugerah dan rahmat dari Tuhan yang di titipkan kepada saya, untuk saya sharekan kepada semua orang yang saya layani.
‘Pengorbanan adalah Kasih dan Kasih adalah Pengorbanan’ -1
(Sr. Rosaliani Tovan Waja)
Setelah mempelajari dan mendalami kharisama dan spiritualitas dari Pater pendiri, serta karakter-karakter dari para pimpinan umum, serta usaha dan segala perjuangan mereka pada tahun-tahun yang silam membuat saya semakin jatuh cinta kepada kongregasi. Terlebih ketika mendalami karakter kepemimpinan dari Sr. Seraphine Pullens yang mempunyai kehidupan doa yang kuat, bijaksana dan penuh kerendahan hati, disiplin, tekun, tegas dan penuh kasih, rela berkorban dan pantang menyerah, sederhana, tanggap terhadap kebutuhan Zaman, berjiwa sosial dan missioner, mampu bekerja sama dengan semua orang, sabar dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Seorang suster yang kepribadian dan karyanya sangat mengagumkan, yang pada tahun yang silam telah memimpin kongregasi selama 32 tahun tanpa di studikan, sungguh bukan ego yang di pikirkannya.
Seorang tokoh yang selalu mengandalkan Tuhan dalam segala-galanya, sehingga walau dalam keadaan yang sulit, kongregasi di bawah kepemimipinanya selalu ada pertumbuhan baru. Benih pertama yang di taburkan oleh Pater Pendiri selalu di jaga dan di rawatnya dengan penuh kasih dan pengorbanan, dan rahmat Tuhan yang di anugerahkan sebagai pengantin Kristus selalu dipeliharanya dalam kesetian.
Saya sungguh jatuh hati kepada sosoknya, dan keseluruhan karakternya sangat memotivasi dan memberikan penyegaran baru bagi pangilan hidup saya, membuat saya bersemangat untuk berjuang mencontohi teladan hidupnya dan semangatnya yang telah terpatri pada semboyan kesayangannya ‘pengorbanan adalah kasih dan kasih adalah pengorban.’
Ia sungguh di pandang sebagai orang kudus yang mempunyai kelembutan seorang Ibu. Paradaban dan kesopanan, menandai penampilanya, berjalan bersama dengan kesederhanaan besar yang menjadikan beliau selalu di cintai. Sampai akhir hidupnya Moeder Seraphine sungguh menghayati kasih yang tidak merasa adanya beban dan kesulitan, melainkan sebuah kasih yang berkuasa atas semua, berbuat banyak, dan melakukan banyak hal, sehingga jika saya tidak memiliki kasih maka saya akan menjadi orang yang kalah dan rugi. A.M.D.G
“Love Change’s Everything
Pengorbanan adalah Kasih & Kasih adalah Pengorbanan -2
(Sr. Paulina)
Melalui buku ‘Dan Benih Itu Bertumbuh’, Pekan Sejarah, Kharisma dan Spritualitas Kongregasi selama 2 pekan telah selesai. Saya mendapat kesempatan boleh mendalami materi tentang ‘Moeder Seraphine Pullens, yang menjadi pemimpin ke-4 pada periode ke-3 dari tahun 1875-1907 (selama 32 tahun).’ Ada banyak hal yang saya peroleh selama 2 pekan ini, baik itu wawasan, motivasi, sprit, dan inspirasi baru yang membuat iman panggilan saya semakin berkualitas dan tetap pada pendirian. Adapun sikap dan kata-kata Moeder Seraphine yang patut saya teladani dan ikuti, seperti: “Penuh semangat dan sukacita, bijaksana, rendah hati, sabar, kelembutan, ramah, tegas, dan selalu menekankan sikap kasih persaudaraan”.
Ada salah satu tulisan Moeder kepada para pemimpin komunitas: “Melalui penyerahan kepada Maria kita menempatkan diri kita dibawah bimbingannya yang selalu mengarah kepada kehendak Allah yang suci dan yang ditunjukkannya melalui teladannya, bagaimana kita dalam sukacita dan dukacita tidak mencari yang lain selain agar kehendak Allah terlaksana dalam dan oleh diri kita.” Dan saya merefleksikan dengan kharisma Pater pendiri Pater Mathias Wolff, SJ “Kesiap-siagaan apostolik, yang selalu menyesuaikan diri tidak lebih, dan tidak kurang dari itu.”
Apa yang telah di tanamkan oleh Pater pendiri, sudah bertunas dan bertumbuh menjadi sebuah pohon yang tinggi, penuh cabang dan daun, menghasilkan buah yang melimpah serta mampu memberikan benih yang baru serta memberikan tempat kehidupan bagi bintang yang lain. Begitu pula pertumbuhan dan perkembangan Kongregasi yang telah di perjuangkan oleh para suster pendahulu. Seiring dengan berjalannya waktu kami tunas-tunas muda tentunya bersyukur dan berterima kasih atas kasih dan pengorbanan para suster hingga kami boleh bangga melihat hasilnya dalam Kongregasi sekarang.
Seperti Video inspiratif yang di tayangkan di sela-sela waktu pekan. Video 1, tentang sekelompok semut dan anak kecil yang ikut perlombaan, walaupun kalah namun karena kasih dan pengorbanan para semut mampu menerima sikap egois, sombong, cuek dan keras kepala dari anak kecil itu. Video 2, tentang seorang pemuda yang memiliki kasih dan pengorbanan mampu menghidupkan tanaman yang awalnya mati karena kekeringan, memberikan makanan pada anjing hingga anjing itu setia pada pemuda itu. Pengemis dan anaknya yang awalnya pemuda itu hanya memberikan uang sedikit demi sedikit mampu menyekolahkan anak pengemis itu dan pemuda itu selalu memberikan buah pada nenek yang sudah tua serta selalu berdoa. Video 3, tentang benih yang awalnya takut untuk di tanam karena benih itu sudah merasa nyaman menjadi benih. Setelah di tanam, benih itu bertumbuh semakin besar dan tinggi dan menghasilkan buah serta semakin percaya diri. Tetapi, pohon itu tetap rendah hati membiarkan buahnya di berikan pada orang lain.
Maka, akhir dari pekan ini, melalui sejarah Kongregasi, kharisma Pater Wolff, tulisan-tulisan Moeder, serta video-video inspirasi, membuat saya semakin yakin bahwa melalui kasih dan perngorbanan saya bisa mendoakan jiwa-jiwa, saya bisa menolong sesama, terlebih dari hal kecil dan sederhana akan menghasilkan sesuatu yang besar dan sempurna, berharga dan bermakna untuk sesama. Sebab jika tak memiliki kedua hal ini maka saya tidak bisa berbuat banyak dan melakukan banyak hal malah yang akan merugikan diri saya sendiri dan menjadi kalah. Maka, saya harus menjadi pewarta yang penuh sukacita bagi sesama yang adalah gambaran kasih dan pengorbanan Allah.
‘Saya percaya bahwa Tuhan sudah merancang sesuatu yang indah untuk kehidupan yang akan datang’
“Serigala–serigala Mengerkah”
Sr. Clara Desy Advenia
Terimakasih melalui Pekan Sejarah Konggregasi ini, membantu saya untuk semakin menambah wawasan mengenai perjuangan dan kerja keras Pater Mathias Wolff. Dari pribadi Pater Mathias wolff yang saleh, sederhana, dan memiliki iman yang kuat, saya banyak belajar bahwa panggilan saya ini sungguh Indah dan penuh perjuangan. Watak seorang Pater Mathias wolff SJ, seorang yang bijaksana, saleh, kuat, namun tetap rendah hati.
Kehadiranmu membuat semua orang terbantu! ketika dunia menutup mata terhadap Orang–orang kecil yang dianggap tidak berguna dan tidak memiliki masa depan. disitu engkau hadir sebagai seorang Serigala Mengerkah! bukan serigala yang menelan orang–orang yang lemah, dan tak berdaya namun hadir melawan ketidak adilan bagi orang kecil,miskin dan papah dan memusnahkan kebodohan.
Bagiku engkau adalah pribadi yang patut diteladani, sehingga pada masa itu banyak yang kagum dengan cara hidupmu. Mengajar anak–anak dan menjadi guru sekaligus Imam bagi mereka. Banyak wanita–wanita muda yang tertarik dan kagum dengan cara hidupmu. Maka hadirlah suster–suster dalam kongregasi Jesus Maria Joseph Dapat dikatakan suster–suster ini adalah Serigala Mengerkah yang akan melanjutkan misimu. suster–suster hebat yang pertama tercatat didalam buku Sejarah “ Dan Benih Itu Bertumbuh “ hebat bukan berarti pintar, berasal dari orang–orang terpandang dan pemimpinya”. Namun karna teladan hidupnya, yang sangat menarik
Dari biografi Suster–suster pemimpin–pemimpin umum pendahulu. Terlebih khusus bagian yang saya dalami adalah masa kepemimpinan priode Keempat (1907–1922) masa kepemimpinan Moeder Rosa De Lima Moors yang saya dalami dari Pribadi dan hidupnya, beliau adalah seorang yang saleh, berpandangan luas, pengertian yang bijaksana, orang yang menyenangkan, perhatian kepada suster-suster, disiplin, dan seorang yang bersemangat. Kepeduliam kepada pendidikan orang–orang miskin. karisma dan spiritualitas yang mirip dengan Pater Mathias Wolff sendiri.
Ada suatu ungkapan yang menarik dari Moeder Rosa Delima yaitu “Bekerjalah seperti Gembala yang baik, yang meninggalkan domba–domba digunung untuk mencari seekor anak domba yang hilang” anda telah meninggalkan semuanya, satu jiwa lebih berharga dari seluruh harta duniawi dan siapa tahu berapa banyak jiwa yang anda selamatkan untuk kehidupan abadi”.
Semakin sedikit yang kita lihat, semakin kita senang bila kita tiba disurga dan kita kenal dan mereka mungkin tidak kita harapkan”. Saya merefleksikan bahwa kehadiran kita dunia khususnya saya sebagai seorang yang terpanggil dalam Konggregasi Jesus Maria Joseph menyadari bahwa kehadiran kita sangat diharapkan ditengah dunia yang sekarang mulai kacau, semakin hari makin menghilangkan keadilan bagi orang kecil, miskin dan papa. Tidak ada lagi menghargai yang tidak beriman. Kehadiran para suster pendahuluan dan kisah nyata realita hidup pada masa itu membuat saya menjadi seorang pemimpin bagi diri saya sendiri yang terkadang jauh dari Integritas (kesempurnaan).
Ketika kita berhasil memimpin diri sendiri maka kita bisa menjadi teman, dan rekan didalam komunitas. Kita bersyukur pula kepada Allah melalui teladan hidup, didalam kesulitan dan serba kekurangan, Para suster tetapi, bersemangat dan selalu believe in God.
Melalui teladan hidup suster Rosa De Lima yang mengungkapkan kebahagiannya bagi para suster–suster Misionaris “Tunjukkanlah pada wilayah kerja Anda, dimana Tuhan telah menempatkanmu seorang Misionaris sejati disekitarmu melalui kata dan teladan bekerjalah melalui doa dan usaha bagi karya misi, setialah kepada kepentingan Hati Kudus Yesus.”
Ketika suatu saat nanti Konggregasi mengutus saya, saya harus siap jika saya diutus kemana saja seperti jiwa misionaris bagi para suster pendahulu perintis yang berani meninggalkan tanah airnya dan bermisi hingga mati di negara orang lain. Itulah bukti cinta Tuhan yang telah memanggil .
Saya percaya itu adalah karya misi yang suci untuk melayani orang–orang yang kecil. ”Suatu kebahagian yang esar jika saya menbantu orang yang tidak dapat berbuat apa–apa lagi untuk saya”. Dan akhirnya semoga Tuhan selalu memberkati Konggregai kami dan semoga kami para tunas–tunas muda dalam Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph, yang akan melanjutkan karya misi selanjutnya Amin.
Berhati Emas
Sr. Maria Aprilia Sondakh
“Menghilang dari panggung sandiwara, dan melupakan diri sendiri. Itulah yang menjadi tujuan dari seorang malaikat manis asal Roterdam yang berhati manis”
Setelah mempelajari dan memperdalam Kharisma dan Spiritualitas Kongregasi SJMJ, yang dimulai dari pendiri yang Kudus Pater Mathias Wolff.SJ, sampai pada pemimpin-pemimpin umum, yang telah memberi diri sampai akhir hidup mereka, demi untuk perkembangan Kongregasi kami tercinta. Secara pribadi, saya sungguh beryukur dan berterima kasih karena melalui Kongregasi SJMJ, saya dibentuk menjadi seorang wanita kristiani yang tangguh dan siap untuk menjadi anggota dalam Kongregasi SJMJ. Selama pekan kharisma dan spiritualitas saya di tuntun untuk lebih memperdalam karakter-karakter dari setiap Pemimpin Umum dalam Kongregasi, lebih khususnya lagi saya memperdalam mengenai kepribadian Moeder Ignatien Stroomberg, selama masa kepemimpinan Sr.Ignatien.
Moeder Ignatien Stroomberg. Adalah sosok yang patut dikenang sama halnya dengan Pater Mathias Wolff pendiri yang kudus. Sr. Ignatien Stroomberg lahir dari keluarga yang sungguh Katolik, menghargi kedermawaan dan keluarga yang terpandang di tempat kelahirannya tepatnya di Roterdam. Namun sikap seorang malaikat manis ini, tidak menunjukkan bahwa beliau berasal dari keluarga terpandang, malahan sebaliknya; tetap rendah hati dan mau ikut merasakan penderitaan orang lain, terlebih yang miskin. Selama 8 tahun Sr. Ignatien Stroomberg memimpin kongregasi melalui kesulitan-kesulitan zaman dengan penuh kearifan yang besar dan ketabahan yang tenang. Sehingga membawa Kongregasi pada sebuah harapan yang baru. Dimana pada masa kepemimpinan Sr. Ignatien Stroomberg, Kongregasi kita boleh merayakan peringatan seabad dan masih banyak lagi kejadian-kejadian penting yang dialami oleh Kongregasi. Berdirinya Kongregasi berawal dari tuntunan Roh Kudus kepada Pater Mahtias Wolff, SJ yang berasal dari Culemborg. Sehinga memulai karya ini dari Amersfoort. Dan karya yang besar ini terus diwariskan kepada generasi kegenerasi sampai pada saat ini, Kongregasi tetap berdiri kokoh.
Kepribadian Sr. Ignatien dalam memimpin Kongregasi yang selalu bekerja dengan penuh kearifan, tenang, bertanggung jawab, sikap keibuan, sikap lepas bebas dan hidup rohani yang begitu menyatu dengan Hari Kudus Yesus, membuat saya semakin termotivasi untuk tetap maju dan terus mencintai Kongregasi yang sudah mulai dibangun sejak awal oleh Pater Mathias Wolff, SJ dan para Suster pendahulu, melalui berbagai macam tantangan. Dan saya pun merefleksikan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, ketika saya tidak mampu menjadi pemimpin untuk diri saya dan ketika saya tidak mampu merefleksikan hidup saya, terlebih hidup rohani saya sendiri. Menjadi seorang pemimpin, yang dibutuhkan adalah sikap keberanian, etika, integritas, tanggung jawab, sikap lepas bebas dan kunci dari semuanya itu adalah kerendahan hati dan hidup rohani yang sungguh menyatu dengan Tuhan. Itulah teladan yang sudah ditunjukkan dan diwariskan oleh Pater Mathias Wolff,SJ dan Moeder Ignatien Stroomberg kepada kita semua. Terlebih bagi saya tunas mudah Kongregasi, yang nantinya akan meneruskan karya-karya kongregasi yang ada saat ini.
”AD MAIOREM DEI GLORIAM”
“Jadilah Kehendak-MU”
Sr.Agatha Ilu
Saya bersyukur dan berterima kasih karena saya mendapat kesempatan untuk lebih mendalami sosok dari seseorang yang yang begitu penting dalam Kongregasi, yaitu Bapa Pendiri Kongregasi P. Mathias Wolff, SJ.
Kepribadian Pater Mathias Wolff, SJ yang memiliki semangat bekerja keras seperti serigala. Namun, ia memiliki sikap lemah-lembut, suka menolong dan siap sedia untuk siapa saja. Memiliki kemampuan untuk mengorbankan diri terus-menerus dalam kerasulan itu berasal dari rasa syukur yang sangat besar terhadap kebaikan dan belas kasih Allah.
Di dalam dirinya ada suatu yang sangat menarik, yaitu suatu gaya hidup yang sungguh-sungguh mengejutkan bagi orang-orang. Orang selalu mengalami sesuatu yang baru, suatu ide yang baru, suatu kekuatan yang baru, yang membuat orang mampu mengikutinya. Daya tarik yang muncul dari hatinya itu terlepas dari kesombongan dan egoisme, tetapi tercampur dengan humor, yang selalu menertawakan dirinya sendiri. Pater Wolff memiliki karakter sebagai seorang yang memiliki daya hidup juang yang tinggi, tidak pernah mengeluh dan putus asa, pendoa, pencinta kaum miskin, humoris, riang gembira, selalu menjadi inspiratif dan motivasi bagi orang lain, peka terhadap perkembangan zaman, pekerja keras, dan memiliki semangat hidup Ignasian.
Maka hadirlah para suster-suster yang mau memberikan diri pada Tuhan, lewat Kongregasi Jesus Maria Joseph. Para suster yang juga memiliki semangat yang besar untuk mau bekerja keras bagai Raksasa. Para suster yang menjadi pemimpin-pemimpin Kongregasi. Suster-suster yang pantang menyerah, dan berjuang demi kemajuan Kongregasi.
Secara pribadi Pemimpin Umum Moeder Stanislas Terwindt yang saya gali dan dalami dari buku “Dan Beni Itu Bertumbuh”. Moeder Stanislas, memiliki keyakinan hidup yang kaya dan kemauan keras. Seorang yang tidak takut akan pengorbanan dan pekerjaan, sejauh itu menyangkut perkembangan Kerajaan Allah. Melalui Moeder Stanislas, membuka mata dan pikiran saya untuk tidak egois pada diri sendiri karena saya ada untuk orang lain.
Salib Tuhan adalah Sebuah Perjuangan
Sr. Emanuela Nunang
Saya bersyukur karena melalui pekan Sejarah Kongregasi ini saya boleh lebih mengenal para Suster Pemimpin Umum para pendahulu yang dengan gigih memperjuangkan dan mempertahankan sekolah- sekolah dan institut-institut yang telah ada dalam Kongregasi terlebih khusus dalam Kepemimpinan Sr. Cantia Stall.
Dalam pemilihan Pemimpin Umum dan hasilnya yang terpilih adalah Sr. cantia Stall. Sebagai manusia awalnya ada penolakan untuk menerima itu tapi dalam permenungannya kurang lebih beberapa hari dan akhirnya ia berangkat juga ke Belanda. Ia adalah seorang suster yang penuh keberanian sehingga dalam perjalanannya ke Belanda Ia hanya seorang diri. Ini juga sebagai tuntutan bagi saya agar saya harus menjadi orang yang berani dalam berkarya terutama dalam karya di diaspora.
Tidak lama kedatangannya di Belanda ia mulai dengan tenang dan rajin mengerjakan urusan-urusan Dewan Pemimpin Umum. Pemimpin umum memberikan kesempatan untuk mengenal Kongregasi di Belanda, agar ia secepatnya memperoleh informasi dalam karya dan mengenal para suster.selama masa kepemimpinannya ada kejadian-kejadian penting yang terjadi yaitu: anggota Konregasi semakin bertambah, cabang pendidikan semakin berkembang. Dari kemajuan – kemajuan ini memicu saya pribadi untuk harus selalu berjuang demi mempertahankan apa yang sudah menjadi milik Kongregasi.
Dalam kepemimpinannya ini pula banyak kesulitan dan tantangan yang Sr. Cantia alami yaitu: karena situasi yang berubah sehingga banyak karya yang kecil di tinggalkan seperti sekolah-sekolah dan rumah lansia, namun semua itu bukanlah suatu penghalang bagi kepemimpinan Moeder Cantia Stall melainkan ia merefleksikannya sebagai sebuah salib yang diletakan oleh Tuhan untuknya, begitu banyak hal yang terkadang membuat suster merasa sedih akan masa lalu terhadap karya-karya Kongregasi tetapi tidak membuat ia untuk berlarut terus dalam kesedihan tersebut melainkan ia merealisasikannya dengan penuh syukur sehingga semuanya terasa ringan.
Saya juga merefleksikan bahwa meskipun banyak tantangan dalam perjalanan hidup saya sebagai generasi muda Kongregasi maka saya juga harus kuat dalam menghadapi situasi Zaman sekarang dengan penuh semangat tanpa mengeluh dan tak kenal lelah. Saya juga harus meningkatkan hidup doa saya sebagai penopang hidup panggilan saya supaya kuat dalam mengalami kesulitan.
Dan untuk mengenang beliau dalam masa kepemimpinan dan perjuangannya dalam mengembangkan karya pelayanan di berbagai RS maka Rumah Sakit Tompaso Baru diberi nama Rumah Sakit Cantia, nama dari Moeder Cantia Stall.
Refleksi
Trihari Suci
|
Sr.
Kristiwati Ributu
Mengikuti Yesus adalah sebuah
janji, suatu janji yang bisa memperkaya saya, bukan karena janji-Nya tetapi
Yesus yang menjanjikan. Ketika saya mengikuti Yesus, saya tahu bahwa Yesus
tak akan mengecewakan saya, Ia punya kuasa dan kemuliaan walaupun Ia harus mati
disalib karena kemalasan saya, karena mementingkan diri saya sendiri, dan
karena dosa-dosa saya yang banyak kali membuat Yesus menderita dan sakit hati.
Bila melihat penderitaan dan
kematian Yesus itu, sangat menyedihkan bagi saya dan saya merasa para murid
waktu itu putus harapan dan bahkan melihat masa depan mereka suram, namun Yesus
menunjukkan kemulian-Nya pada hari ketiga Ia bangkit dan menunjukkan kepada
kita bahwa semua yang percaya telah menang. Memang masa depan bisa suram
(dialami para murid) namun dalam kesuraman itu mengandung banyak kemungkinan.
Yesus di proklamasikan sebagai Anak terkasih.
Dalam trihari suci ini, bagaimana
saya merenungkan mulai dari Yesus diserahkan untuk disalibkan, Pilatus lebih
menjaga harga diri dan jabatan, dari pada membela orang yang tak bersalah.
Pilatus mencuci tangan terhadap tanggungjawab yang seharusnya membela Yesus dan
itu berakibat fatal bagi Yesus. Dari kejadian ini saya belajar bahwa saya tidak
boleh seperti Pilatus yang mengurbankan orang lain demi kepentingan pribadi.
Yesus yang memberi kasih-Nya mau
merajai hati umat-Nya namun yang Ia terima hanya olok-olokkan. Memang kasih
yang murni kerap kali mendapat cemooh, olok-olokkan, dan Yesus mengajarkan saya
untuk tidak takut mengasihi sesama tanpa takut apapun resiko yang akan
diterima.
Penderitaan Yesus mempunyai makna
yang begitu besar bagi saya, bahkan Yesus rela menanggalkan pakaian-Nya yang
memberi ciri kebudayaan, agar kemiskinan Yesus memperkaya hidupku, dan Yesus
mengasihi saya dengan rela Ia melepaskan pakaiannya. Salib Yesus memang
kegilaan, karena orang tak bersalah dihukum lebih berat dari pada orang yang
bersalah tetapi, dalam kegilaan itu mengandung hukum kasih dan pelayanan yang tidak
tanggung-tanggung, Yesus secara jelas mau mengingatkan saya bahwa kasih dan
pelayanan tidak boleh berhenti karena olokkan orang lain.
Hidup Yesus yang Ia serahkan
akhirnya memberikan buah-buah melimpah bagi saya dan dunia. Saya ingin
mempersembahkan kepada Tuhan lewat refleksi jalan salib yang telah kutulis
diatas mengajak, mendorong, memotivasi saya, dari kehidupan Yesus untuk saya,
pemberian diri sampai wafat dikayu salib merupakan bekal saya ketika saya
bercermin dari ketaatan Yesus untuk tugas dan tanggungjawab yang diberikan
kepada saya.
Tuhan, Engkau telah mengangkat
kelemahan dan membangkitkan semangat dalam diriku untuk mampu hidup dan menjadi
pelayan-Mu bagi sesamaku. Trimakasih Tuhan.
Sr. Debora Jeisye
Sangat berat dan terasa sakit hatiku
ini melihat penderitaan Kristus mulai dari kamis putih ketika Yesus membasuh
kaki murid-murid-Nya di malam perjamuan terakhir mereka bersama Yesus. Yesus
dengan rendah hati ingin menunjukkan teladan yang baik agar saya dibersihkan
dari dosa saya.
Setelah itu Yesus ditangkap dan
dijatuhi hukuman mati. Saya secara pribadi mengikuti jalan salib ini merasa
begitu menderita mengikuti jalan salib ini, sedangkan saya tidak memikul kayu
salib yang nyata seperti Yesus. Bagaimana dengan Yesus yang lebih menderita membawa
kayu salib yang sangat berat, dicambuk, disiksa, diludahi? Saya merefleksikan
betapa sakit dan perihnya hati saya melihat Yesus yang rela menanggung derita
karena dosa-dosa saya. Hati saya terobek-robek. Perih badan ini seakan
dicambuk-cambuk dan terluka, saya tidak tahu harus bagaimana membalas cinta
Kristus itu yang taat pada penderitaanNya sampai mati dikayu salib.
Saya menyesal atas dosa-dosa saya,
karena dosa-dosa saya Yesus sangat menderita. Mulai saat ini saya berusaha
untuk meringankan beban Yesus dan berusaha hidup lebih baik lagi dan berusaha
melakukan yang terbaik untuk semua orang. Seperti Yesus yang selalu memberikan
yang terbaik untuk saya, untuk hidup saya.
Melalui Trihari suci ini yang saya
dapatkan dalam menghayati trikaul yaitu taat, murni, dan miskin, dimana Yesus
sebagai anak Allah. Begitu juga saya yang ingin menjalani hidup suci ini, saya
harus seperti Yesus yang taat, hidup murni dan hidup miskin.
Saya secara pribadi dalam menjalani
hidup panggilan suci ini agar saya dapat bertumbuh dan berkembang dengan
mengikuti teladan Yesus, dengan taat pada pembimbing dan taat pada teman
terlebih khusus taat pada Tuhan dan melaksanakannya. Hidup murni dengan menjaga
hati dan pikiran saya agar saya tidak merencanakan hal-hal yang jahat dan
kurang baik. Dalam kemurnian juga dibutuhkan kemurnian tubuh fisik kita agar
tak ternodai oleh dosa, dengan menghargai tubuh saya. Dan hidup miskin bukan
berarti saya tidak boleh menggunakan barang-barang yang mahal dan mewah, tetapi
bagaimana saya menghargai barang-barang itu, dengan menjaga barang-barang itu,
agar tidak cepat rusak dan supaya barang-barang itu boleh digunakan lebih lama.
Berpakaian sederhana, bukan berarti saya harus memakai pakaian yang rusak dan
kusam, tetapi dengan mengahargai pakaian saya agar terlihat rapi, bersih dan
lama dipakai.
Melalui trikaul yang Yesus jalani
dan melalui pengorbanan Yesus membawa saya pada pembaharuan hidup saya dan tidak
berbuat dosa lagi agar Yesus tidak menderita lagi. Dan melalui kebangkitan
Kristus saya semakin mengerti akan kehidupan ini. Dimana ada Hidup dan Mati
disitu juga ada kebangkitan. Dimana ada kekuatan, akan ada juga kelemahan dan
kejatuhan. Tapi dengan kebangkitan Kristus, saya semakin dibangkitkan untuk
keluar dari diri saya yang lama, diri saya yang diliputi kegelapan sehingga
saya bisa dibebaskan dan dilepas dari beban masalalu saya yang membuat saya
tidak bertumbuh dan berkembang.
Dengan kebangkitan Kristus inilah
saya semakin diarahkan dan dituntun kedalam terang sejati yang membawa
kedamaian dan sukacita bagi semua orang yang saya layani dan saya kasihi.
Sr. Virginia Mandang
Tahun demi tahun pasti ada yang
berbeda dan itu terasa suasana yang berbeda.
Mulai dari saya postulan ketika saya merayakan paskah pertama kalinya di
Tomohon. Saya merasa bahwa biasanya saya dirumah tidak begini, tidak merayakan
paskah bersama dengan anak-anak yang kekurangan, tetapi semenjak saya berada di
Tomohon ini saya merayakan paskah bersama dengan anak-anak SLB dimana mereka
mempunyai kekurangan keterbelakangan mental.
Tapi dibalik kekurangan mereka,
mereka mampu bangkit untuk membuat orang tersenyum dengan karya-karya mereka.
Lewat pengalaman ini memberi saya pelajaran dan pengalaman berharga dimana
paskah ini membuat saya untuk bangkit dari kelemahan saya, belajar dari
orang-orang yang lebih lemah dari saya walaupun mereka kurang kasih sayang dari
orang tua tapi mereka mampu bertahan dari kekurangan mereka dan memberi warna
lain bagi orang disekitar.
Paskah tahun ini saya rayakan di
Novisiat dan Panti Semadi, saya merasakan suasana yang berbeda dimana saya
diajak untuk menyerahkan diri seutuhnya pada Tuhan dengan bangkit dari segala
keterpurukan saya, bangkit dari apa yang menghambat saya dengan berpikir luas
dan memandang kedepan. Mengenakan senjata yaitu doa dengan
bimbingan Roh Kudus. Pengalaman saya waktu menghias refter pertama, saya tidak
yakin dengan apa yang saya buat dengan hiasan itu, tapi saya meyakinkan diri
bahwa saya bisa dan akhirnya dari kepercayaan diri saya, saya mampu untuk
berkreasi. Disinilah saya bangkit, dengan membangkitkan rasa percaya diri
dimana saya bisa menunjukkan kreasi saya, walau tidak terlalu bagus. Tapi usaha
saya mampu membangkitkan saya dari ketidakmampuan saya menjadi percaya diri.
Paskah yang menyenangkan. Kristus
bangkit, sayapun harus bangkit. Mengenakan perlengkapan dengan senjata Roh
Kudus. Inti Paskah bagi saya, mampu bangkit dari kelemahan dan menunjukkan
bahwa saya bisa. Makna paskah adalah hari dimana saya mampu untuk keluar dari
diri saya, seperti telur di dalamnya ada kehidupan dan disinilah saya mampu
untuk keluar dan menunjukkan keindahan arti hidup sesungguhnya. Hidup ini
anugerah yang diberikan Tuhan untuk menyalurkan cinta dn penyerahan diri dalam
Tuhan sehingga saya menjadi saluran cinta dan berkat kepada sesama.
Sr. Natalia Muti
Pagi-pagi benar setelah saya keluar
dari kapel, saya bingung dan saya tidak tahu mau kontemplasi apa. Tetapi
setelah saya diam dan merasakan hangatnya matahari fajar yang memancar kearah
saya, disitu muncullah dalam hati saya yang menarik perhatian saya, sambil membuka kedua tangan dengan berdiri tegak menghadap matahari
fajar. Disitu saya mulai merasakan Yesus bangkit dari kuburnya dan cahaya
tubuhnya memancarkan kasih kepada saya.
Dalam kontemplasi saya menyerahkan
diri saya kepada Tuhan dan membangkitkan sikap yang baik untuk memancarkan
kepada sesama dan menguburkan sikap yang buruk. Sikap yang baik membuat diri
saya selalu bahagia bersama Kristus.
Melalui pengalaman rohani ini saya berniat untuk meninggalkan segala keburukan saya, menjadi yang lebih baik,
berusaha dan berjuang terus menerus.
Tuhan Yesus trimakasih atas
cinta-Mu yang saya alami dengan panggilan ini. Semoga melalui refleksi-refleksi
ini membuat saya semakin kuat, setia, taat, terutama melayani sesama dan
mengasihi sesama, agar dengan kebangkitan Yesus Kristus saya pun bangkit
bersama Yesus untuk membagi dan memancarkan cinta-Mu kepada sesama.
Refleksi
Pengalaman PESTA DEMKRASI PILPRES 2019
|
Sr. Virginia Mandang
Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata “salam bagimu”. Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Matius 28 : 9
Rindu itulah yang terpancar dari
ayat ini, bahagia itu yang dirasakan dalam ayat tersebut. Perjumpaan dengan Yesus
yang mereka pikirkan sudah mati akhirnya bangkit dan bertemu dengan mereka.
Begitupun pengalaman pribadi saya di Novisiat ini saya tidak boleh bertemu dan
kontak dengan orang tua saya. tapi pada saat pemilihan, nama saya tidak
terdaftar di Tomohon akhirnya saya diizinkan oleh suster pembimbing untuk
pulang dan orang tua saya menjemput saya.
Senang sekali hati saya ketika saya
bertemu dengan orang tua saya. seperti ayat yang saya pilih rindu dan bahagia.
Saya bertemu dengan orangtua saya dengan memakai pakaian yang berbeda, pakaian
seorang religius. Dan ini saya jadikan pengalaman yang berharga dimana saya
masih seorang novis tahun kanonik dan saya diizinkan pulang dan bertemu dengan
orang tua saya untuk mencoblos presiden pilihan saya.
Saya sangat bersyukur, dan lewat pengalaman itu menguatkan saya untuk terus maju karena orang tua
saya memberi dukungan besar. Begitupun di dalam biara, saya mempunyai kerinduan untuk
bertemu dan berjumpa dengan Tuhan lewat doa dan meditasi yang tiap hari saya
buat sebagai bentuk kerinduan yang semakin membentuk iman saya, dan menjadi pribadi yang kuat dalam panggilan hidup ini.
“Menjadikan pengalaman sebagai
kekuatan untuk terus maju”
Yesus
jagalah aku, sebab pada-Mu aku berlindung, dan jadikan hidupku sebuah cerita
indah tentang Engkau.
Sr. Elisabeth
Mo’a
Pemilu Tahun ini sangat-sangat ketat, masyarakat dengan antusias
yang besar ingin memilih pilihan hati mereka siapa
yang akan menjadi pemimpin terbaik. Dan pemilu tahun ini sangat spesial,
terlebih bagi saya pribadi, karena ini adalah yang pertama kalinya saya
mencoblos, dan sekaligus memilih lima pemimpin, yaitu Presiden, DPR-RI, DPR
Provinsi, DPR Kota dan DPRD.
Pengalaman yang indah dan menyenangkan, tapi juga melatih
kesabaran karena satu hari saya berada di TPS untuk menunggu giliran saya
dipanggil. Bukan hanya saya saja, tapi ada beberapa masyarakat, anak SLB dan
juga kedua teman novis saya. Itu semua disebabkan karena data-data kependudukan
kami belum ada disini, padahal kami mempunyai KTP Asli Tomohon. Tapi tidak
apa-apa dari pada saya golput lebih baik saya menunggu saja demi memilih pemimpin
yang baik, bertanggungjawab, adil, ramah, sederhana dan setia pada tugasnya.
Akhirnya pada pukul 16.30 nama saya dipanggil. Saya begitu gugup untuk
mencoblos tapi dengan penuh percaya diri dan diawali dengan tanda salib, saya
yakin saya memilih pemimpin yang terbaik.
Begitulah pengalaman saya dalam pemilihan tahun ini untuk
yang pertama kalinya. Semoga mereka yang terpilih menjadi pemimpin boleh
memimpin negara ini dengan baik dan adil agar tercipta bangsa yang adil, aman
dan sejahtera.
Thanks,, because you had the choice to good leaders for our Country
Sr. Meylani Wondal
Berjuang untuk pemimpin
negara.
Hari itu seluruh warga negara Indonesia,
baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri, serentak menyerbu
TPS terdekat, untuk memberikan suara mereka sebagai tanda pengharapan akan
pemimpin yang arif dan bijaksana hadir di tengah-tengah mereka. Bentuk dari
pemberian diri, tanggung jawab dan respek sebagai warga Negara Indonesia adalah
dengan memberikan suara mereka. Pesta demokrasi yang bertepatan dengan suasana
umat katolik berada dalam suasana hening, merenungkan dan merefleksikan
peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Dalam permenungan itu
harapannya adalah Kristus bangkit bersama pemimpin yang baru dan menjadikan
setiap manusia memiliki hati dan tanggungjawab untuk menata Negara Indonesia
dalam kebersamaan.
Secara pribadi hari itu bagi saya adalah hari yang special
dan bersejarah dimana saya berjuang dengan tuntunan Roh Kudus melalui kedua
suster pembimbing menuntun saya untuk berani demi seseorang yang berperan
penting dalam kemajuan dan kesejahteraan Negara Indonesia. Saya melangkah
dengan berani mencari hak saya untuk memilih, berjalan kaki ditengah panas
terik dan bolak-balik TPS untuk mencari surat suara. Secara pribadi saya menjadi berani dan yakin bahwa saya bisa untuk
pergi sendirian tanpa ditemani dan akhirnya saya bisa dan menjalankan tugas
saya sebagai warga Negara yang baik dengan memberi suara saya untuk mereka yang
nantinya menjadi pemimpin negara kami tercinta.
Perjalanan singkat yang membuahkan hasil bagi saya tercapai
ketika ada niat, usaha, kerja keras, keberanian, dan tanggungjawab. Itu semua
termuat dalam pribadi saya hari itu. Ketika ramai di
TPS 8, saya menjadi sasaran utama setiap mata masyarakat Paslaten II,
wah,,wah,,wah,, siapakah aku ini sampai-sampai menjadi yang istimewa di TPS 8
ini.
Saya disambut dan diberi makan dengan baik, kakak dari ayah saya sangat
bahagia ketika melihat saya sebagai seorang suster dan bagi saya bukan hanya dia saja, melainkan masyarakat sekitar baik yang bergama katolik, protestan
dan islam menyambut saya dengan salaman yang tulus.
Saya merefleksikan bahwa karya Tuhan selalu hadir kapan dan
dimanapun selagi saya percaya bahwa Tuhan menyertai saya disetiap langkah kaki
saya. Ketika berhadapan dengan mereka, saya sadar bahwa bukan perempuan biara
melainkan saya adalah seorang religius muda yang hadir dengan busana biara yang
berbeda. Saya menanggapi setiap pembicaraan secara dewasa dan sopan serta ramah
karena saya hadir bukan sebagai diri saya sendiri melainkan membawa Tuhan dalam pribadi
saya.
Saya berusaha untuk bersikap netral terhadap calon-calon
yang masuk nominasi sebab masyarakat sangat sensitive. Untuk itu saya
berjuanguntuk menahan cara bicara dan sikap serta prilaku saya. perjuangan hari
itu adalah bekal bagi saya untuk menjadi seorang yang mandiri dan menjadi orang
yang optimis untuk mencapai sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Hari itu adalah hari pengharapan untuk seluruh masyarakat
Indonesia. Siapakah dia? Berilah hakmu untuk memilih, maka dia yang engkau
harapkan akan menjadi seperti yang diharapkan. Thank You God Y
*kRONIk
|
April
Tanggal 4
Hip.. Hip.. Hura.. Happy Birthday Twins
Sisters Sr. Maria Sondakh novis II dan Sr. Debora novis I. he..he..he.. Kembar
tapi beda.. sama-sama pake kacamata. Uh apalagi body.. Memang sama skali.. Cuma
umur yang membedakan mereka berdua.. hehehe panjang umur and sehat selalu yah..
Semoga tetap setia dan tetap semangat menjalani panggilan yah...
Tanggal 14
Ada yang lagi Ultah hari ini.. Selamat
Ulang Tahun Sr. Justien Tiwow, SJMJ. Provincial Provinsi Manado. Maafkan kami
Novis I yang tidak bisa mengikuti eventnya. Tapi kami semua selalu mendoakan
Suster dan tugas perutusan suster selalu diberkati. Sehat selalu dan tetaplah
jadi pemimpin terbaik kami.
Tanggal 18
Ada lagi yang jadi Baby nih.. Happy
Birthday yah kakak Sr. Paulina Trisna Ayu. Hari ini adalah hari yang special
karena hari ini adalah hari kamis Putih. Tetap jadi yang terbaik yah,, dan tetap
setia dalam panggilan.
Tanggal
19
Hari
ini adalah hari dimana umat kristiani merenungkan sengsara Tuhan Yesus yang rela
menderita sengsara dan wafat di salib demi keselamatan umat manusia. Dan hari
ini juga puasa dan pantang full day
untuk kita bisa benar-benar merasakan penderitaan Kristus. Ampuni kami ya
Kristus yang sering berbuat dosa dan sering menyangkal Engkau dengan sikap dan
prilaku kami yang kurang baik terhadap Engkau dan sesama.
Tanggal 21
“Selamat
Hari Raya Paskah” Tetaplah bangkit bersama Kristus yang pada hari ini
menunjukkan kemualiaannya kepada kita semua. Semoga kita sekalian dibaharui
oleh kasih Tuhan dan bangkit bersama Kristus untuk mewartakan karya Tuhan
kepada sesama kita.
Happy
Birthday
Mei.
|
|
2
|
Sr. Gerarda Samuela Dirmatruty
|
3
|
Sr. Bonifacia Koyongian (Sta. Anna lembean)
|
Sr. Auxilia Tandayu
|
|
Sr. Maria Goretti Goncalves
|
|
9
|
Sr. Margaretha Kowaas, Sr.
Giasinta Wengkang
|
Sr. Rosalia Mengko
|
|
13
|
Sr. Meylani Wondal
|
15
|
Sr. Maria Bau
|
16
|
Sr. Edith Pasomba
|
Sr. Xaveriani Massang
|
|
20
|
Sr. Margaretha Toliu, Sr. Yuliana
Wagiyem
|
Sr. Kristina Abuk, Sr. Marcelina
Aliks
|
|
22
|
Sr. Mariana Maria Terok, Sr.
Gregoriana Meldiana Telik
|
23
|
Sr. Aloyse piay
|
24
|
Sr. Anastase Turang (Sta. Monika Makassar)
|
25
|
Sr. Regina Windyastuti, Sr.
Florentina Merlin
|
Sr. Rosalinda Santi
|
|
26
|
Sr. Angeline Bia' Arruan, Sr.
Ivonne Pusung
|
28
|
Sr. Brigitte Yustina David, Sr.
Bernadette Mokorimban
|


