Sr. Hildegardis Mau, SJMJ
And All Novices
Moderator : Sr. Jeanne Turangan, SJMJ, Sr. Nirmala,
SJMJ, Sr. Sisilia Sisilianingsih, SJMJ
Sr.
Hildegardis Mau, SJMJ
Ketua Redaksi : Sr. Francilia Petra Gareso
Editor : Sr. Agatha Jessica, Sr. Paulina Trisna
Ayu, Sr. Debora Jeisye. Lay Out : Sr. Agatha Iluh, Sr. Debora Jeisye
Ilustrator : Sr. Paulina Trisna Ayu, Sr. Agatha
Jessica, Sr. Debora Jeisye
Alamat Redaksi : Novisiat JMJ “REGINA CAELI” JL. P. L
Kaunang No. 308
Tomohon
95362 SULAWESI UTARA
Refleksi Kharisma dan Spiritualitas Novis I
Refleksi Masa Stage Novis 2
English Corner
Sapaan Redaksi
Para pembaca yang terkasih salam jumpa
di edisi Lavita Dolce ketiga di tahun ini. Lavita Dolce bulan ini berisi
tentang refleksi Kharisma dan Spiritualitas Novis 1, dan refleksi Masa Stage Novis 2, English Corner dan Kronik, dan juga tidak lupa kami tampilkan daftar ulang Tahun para suster.
Seiring berjalannya waktu, semua peristiwa hidup semakin bermakna, dan semua itu karena kesadaran akan kasih setia Tuhan yang selalu menyertai kita semua. Selamat Natal dan Tahun baru. Selamat Pesta Keluarga Kudus dan Selamat Membaca.
Refleksi Kharisma dan Spiritualitas Novis Tahun 1
”Kharisma dan Spiritualitas Pendorongku”
Sr. Virginia Mandang
Pengalaman-pengalaman yang saya
lewati di dalam biara berbeda jauh dengan apa yang saya jalani diluar biara.
Sebelum saya masuk biara, saya mengira kalau menjadi seorang suster apalagi
melihat dari suster-suster yang saya kenal
di dalam biara hidupnya enak dan biasa-biasa saja bila dibandingkan
dengan kehidupan kaum awam diluar, tetapi
setelah saya masuk biara dan meliihat kehidupan sehari-hari dari seorang suster
apalagi suster-suster Jesus Maria Joseph ternyata suster-suster adalah seorang
pekerja keras dimana mereka mempunyai karya dimana-mana baik dalam bidang
kesehatan, pendidikan, maupun pastoral dalam melayani masyarakat dan Gereja.
Dibalik itu semua ternyata ada Kharisma dan Spiritualitas yang dihidupi dan dihayati dalam hidup
bersama Suster-suster Jesus Maria Joseph dan itu diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari saya lewat pekerjaan, pelayanan di Gereja, sapa-menyapa satu dengan
yang lain baik dengan suster-suster pembimbing, rekan-rekan novis
dan suster-suster di komunitas. Pater Mathias Wolff, SJ adalah pendiri kongregasi, dialah yang menerapkan semua itu dan menanamkannya pada suster-susternya sehingga terus bertumbuh dan berkembang dan sekarang juga saya menghidupi kharisma dan spiritulitas dari Pater Mathias Wolff SJ. lewat pembinaan di
Novisiat, di mana saya dibetuk dan dibina menjadi wanita tangguh.
Roh kudus yang membimbing saya
menjadi seorang religius untuk bertekad dan memberanikan diri menjadi suster biarawati SJMJ, dan akhirnya sekarang saya berada di Novisiat dengan teman-teman
yang istimewa. Saya diajarkan tentang kharisma yaitu
"Selalu siap sedia bagi jiwa-jiwa, dan saya mau bekerja bagaikan raksasa" kata-kata ini terkadang atau sering saya tidak hayati
misalnya jika ada teman-teman yang meminta bantuan, saya masih menolak berarti saya tidak
menerapkan sikap siap sedia dalam diri saya dan sebagai pekerja keras. Dalam kehidupan sehari-hari saya melihat, para suster bangun pagi-pagi menyiapkan segala sesuatunya dan sesudahnya pergi bekerja di sekolah, konveksi, dapur, belajar/kuliah. Ada juga yang melayani dalam
bidang kesehatan sehingga terkadang para suster kembali ke biara sudah sore dan
itulah bentuk pengabdian dan kecintaan para suster terhadap Kongregasi.
Pengabdian diri para suster menjadi motivasi bagi saya yang masih belajar
untuk menjadi seorang suster yang dewasa, bertanggung jawab dan tidak takut
akan tugas yang diberikan oleh Pimpinan.
Untuk itu sikap lepas bebas,
sebagai tanda penyerahan diri kepada Bapa, juga harus saya persembahkan, jika
saya lepas bebas dan penuh penyerahan kepada Allah, semangat Kharisma dan
Spiriualitas dapat saya maknai dan didukung oleh dorongan Roh Kudus, saya akan
menjalaninya.
“Penghayatan yang utuh adalah
jalan untuk memurnikan panggilan. Kharisma dan Spiritualitas adalah kekuatan
yang mendorong dalam panggilan”
“Kebebasan dan Kesetian Hati”
Pengalaman saya selama mendalami
Spiritualitas dan Kharisma sangat membantu dan memampukan saya untuk bisa
menghayati kaul-kaul yang ada dalam Konstitusi JMJ yaitu Kemiskinan, Ketaatan
dan Kemurnian. Belajar kharisma dan spiritualitas bukanlah hal yang kecil,
tetapi sangat mendalam dan banyak hal yang saya dapat ketahui dan saya kembangkan,
yang dulu tidak bisa menjadi bisa. Terutama dalam mengikuti pembinaan di
Novisiat yang melatih diri saya untuk disiplin, bertanggung jawab, baik dalam
kerja maupun dalam doa.
Saya secara pribadi sangat
bersyukur kepada Tuhan karena melalui
belajar Kharisma dan Spiritualitas membuat dan memampukan saya untuk selalu
menyesuaikan diri, siap sedia, untuk melaksanakan kehendak Allah. Menjadi
seorang religius bukan saja karena iman dan kasih, tetapi karena pengharapan
yang besar kepada Tuhan, agar dalam usaha-usaha bisa terlaksana seturut dengan
kehendak Tuhan. Tantangan adalah tanda karya Allah, Yesus sangat mencintai
orang yang sederhana dan rendah hati. Dalam kontemplasi saya banyak hal yang saya temukan dalam diri saya yaitu
kekurangan, kelemahan, dan kelebihan saya. seperti Pater Mathias Wolff
mempunyai kekurangan dan kelebihan ketika ia jatuh, maka ia berusaha untuk
bangun dan menjadi orang yang berguna bagi sesama dan Allah. Begitu pun saya ketika saya
ditantang dan dibina oleh suster pembimbing itulah yang membuat saya berubah
taat dan setia kepada Tuhan. Pengharapan saya adalah Tuhan karena Tuhanlah yang
menggendong dan mengingat saya. Mengikuti Pembinaan di Novisiat tidak mudah,
banyak tantangan dan cobaan yang harus saya lalui. Ketika saya berjalan terkadang melalui jalan yang lurus dan juga jalan yang
berliku-liku dengan penuh bebatuan untuk mencapai tujuan saya.
Bebas dari segalanya harus
mempunyai hati yang damai, bahagia, gembira dan mencari Tuhan dalam segala hal.
“Warisan yang dihidupkan dan menjadi Tunas muda Kongregasi yang
berkualitas”
“Kesiapsiagaan bagi jiwa-jiwa dan
selalu menyesuaikan diri tidak lebih dan tidak kurang dari itu.” Merupakan
warisan yang terindah yang diberikan P. Wolff sebagai warisan bagi suster-suster
JMJ siap diutus ketempat yang baru. Banyak yang saya pelajari ketika
saya menggabungkan diri dalam Kongregasi SJMJ. Dari aspiran, postulan dan
sekarang sebagai novis saya dibimbing terus-menerus sampai saya tahu apa maksud dan arti dari
proses pembinaan. Dari kamar pembimbing ke dapur dan refter merupakan tugas
mulia yang diberikan, dan saya harus menerimanya dengan hati yang ikhlas dan
tulus.
Siap sedia bagi jiwa-jiwa dan
saya mau bekerja bagaikan raksasa. Saya ditugaskan di refter untuk melatih melayani melalui tugas kerumahtanggaan. Hal itu menjadi kesenangan bagi saya, namun terkadang saya sedih
karena dirumah saya tidak pernah mengatur piring untuk makan, tetapi disini
saya harus belajar menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik Pater
Wolff mengajarkan saya untuk humoris dan menerima hal yang
diberikan orang lain kepada saya baik yang menyenangkan maupun tidak. Itu
merupakan proses dalam masa pembentukkan diri saya. pada waktu itu saya down
tetapi saya harus bangkit dan merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.
Rendah hati merupakan sifat yang dijunjung tinggi Pater Wolff agar tidak sombong dan
mampu menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Bertanya jika tidak tahu dan
jangan pernah berbuat hal yang tidak dikehendaki pimpinan. Kreatif agar bisa membagikan
talenta untuk menyenangkan Tuhan dan sesama. Seperti saya yang menghias Bunda Maria
di refter sehingga setiap orang yang melihatnya memuliakan Allah.
Mati raga merupakan sifat yang harus saya contohi dari P. Wolff misalnya menghabiskan makanan yang tidak disukai terlebih dahulu dan membiarkan orang lain makan makanan yang saya sukai, hal itu merupakan mati raga dimana saya harus menahan segala yang saya suka diberikan kepada orang lain, dari pada saya harus makan apa yang saya suka. Egois dan keras kepala harus saya hilangkan, menerima masukan dari orang lain merupakan sifat dari Pater Wolff yaitu cinta pada sesama.
Dalam, menghayati kharisma dan
Spiritualitas, tentunya diawali dengan sejarah. Sebagai seorang novis dalam Kongregasi
Suster-suster Jesus Maria Joseph, yang didirikan oleh seorang Jesuit, yaitu Pater
Mathias Wolff, secara pribadi saya merasa bangga apalagi setelah membaca dan
mendalami sosok dari Pater Mathias Wolff, SJ terlebih tentang Khrarisma dan Spiritualitas yang membuat saya untuk berani melangkah mengikuti panggilan hidup membiara.
Kepekaan sorang Pater Mathias
Wolff dalam melihat kebutuhan umat yang besar, penyerahan diri kepada Allah
membuatnya berani menghadapi masalah-masalah yang datang menghampirinya demi
membela iman. Dalam riwayat hidup P. Mathias Wolff, SJ, hal 71-77. Disitu saya
belajar bahwa ketika saya benar-benar tekun dalam rumah pembinaan dan
sungguh-sungguh berjalan bersama Yesus dalam doa, ibadah, dan meditasi, berarti
saya akan mampu menjadi seorang suster yang kuat, bertanggung jawab, tidak
mudah putus asa dan berani.
Dengan mengetahui perjuangan
Pater Mathias Wolff, SJ sebagai seorang Imam yang memperjuangkan keadilan,
peduli akan masa depan banyak orang, terutama bagi kaum perempuan dan
perjuangannya bersama para suster dalam mempertahankan kongregasi yang saat itu
ia harus meninggalkan suster-susternya, karena Pater Wolff berusaha untuk taat
kepada Allah dan siap diutus ke wilayah yang jauh, sehingga terpisah dari
suster-susternya.
Lewat peristiwa-peristiwa yang
diawali oleh para suster yang pertama membuaat saya untuk merubah prilaku saya
yang tidak baik, yaitu keegoisan, irihati, kesombongan, dll. Dengan mengetahui
sejarah kongregasi muncul pertanyaan dalam diri saya, Apakah saya bisa menjadi
seorang suster yang bisa berguna bagi kongregasi atau sebalikya? Apakah saya
sebagai orang muda dalam kongregasi, bisa melanjutkan perjuangan dari para
suster pertama, atau malah membuat kongregasi tidak berkembang? Dan semua
pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya meninggalkan prilaku saya yang tidak
baik, belajar dari kesalahan yang saya lakukan, belajar peka terhadap hal-hal
kecil, bertanggung jawab, mau menerima teguran atau nasihat. Mau dibina dan membina diri, sehingga saya bisa menjadi seorang suster yang berguna bagi kongregasi, melayani Tuhan dan sesama dan berusaha untuk menjadi seorang suster yang benar-benar menghayati dan
mengikuti jejak Pater Pendiri, dengan menghidupi Kharisma dan Spiritualitas yang diwariskan kepada para suster-susternya.
“Pengorbanan mendatangkan
Sukacita”
Sr. Fransiska Maria Nahas
Semangat yang ada di dalam diri saya, membawa saya untuk menjalani panggilan ini. Roh Kudus yang mendorong serta menggerakkan hati saya untuk memilih dan menjalani panggilan yang diberikan Tuhan kepada saya melalui Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph.
Saya merefleksikan bahwa dalam
menjalani hidup panggilan untuk menjadi seorang religius apalagi dalam masa sekarang ini, ada banyak tantangan yang harus saya lewati. Perjuangan dan pengorbanan para
suster setelah saya melihatnya sungguh besar dan mulia, misalnya dalam karya
pendidikan disekolah para suster diberikan tanggung jawab untuk mendidik dan
mengajar para murid. Dalam mengajar murid-murid para suster dengan sabar dan penuh
perhatian, serta mengajak anak-anak untuk lebih aktif dalam pelajaran mereka.
Para suster yang saya lihat ternyata juga pekerja keras, humoris, siap sedia
dan tidak mengenal lelah. Itu semua didorong juga oleh Kharisma dan Spiritualitas dari pendiri kongregasi yakni Pater Mathias Wolff, SJ yang telah
diwariskan kepada para suster turun-temurun. Kharisma dan Spiritualitas yang
ditinggalkan tidak hilang dari para suster bahkan sampai sekarang, dan selalu
dimulai sejak dirumah pembinaan. Misalnya dalam Novisiat ini, kharisma itu siap
sedia dan saya mau bekerja bagai raksasa. Siap sedia ketika saya ditunjuk untuk
menjadi dirigen dalam memimpin koor meskipun ada bagian-bagian tertentu yang
sulit tetapi saya secara pribadi tidak boleh menolak, karena itu adalah salah
satu bentuk kesiap sediaan saya. seperti Pater Wolff siap diutus kemana saja,
begitupun saya jika saya diutus untuk melayani umat, dalam misa saya harus
melayani dengan hati gembira dan sukacita.
Spiritualitas kerasulan yang ada
sekarang di dalam diri saya harus saya tanamkan dan kembangkan misalnya dalam
hal kerja, saya diutus oleh pembimbing untuk pindah ke tempat kerja lain, dari
was saya pinda PU (pekerjaan umum) itu
adalah salah satu bentuk spirit saya, dimana Roh lah yang bekerja dalam diri
saya untuk lebih memperluas kerajaan Allah lewat tindakan-tindakan konkrit
saya. Dalam arti ini, bahwa apapun tindakan yang saya lakukan semua tergolong
dalam Kharisma dan Spiritualitas baik dalam pelayanan maupun pekerjaan saya.
saya percaya akan iman saya kepada Tuhan, bahwa Tuhan sama dekatnya dalam doa, seperti Dalam berbagai
macam pelayanan kepada sesama.
Pengharapan akan Allah, yang memberi kepastian kepada saya, jika saya mau berusaha menemukan
jalan keluar dalam kesulitan. Perjuangan dan Pengorbanan akan berarti jika
dijalani dengan semangat.
“Warisan Pendiri”
Sr. Monika Saladat
Warisan tidak selamanya berupa
harta benda, tetapi berupa cara hidup yang baik yang diteruskan kepada penerus
atau pengikutnya. Warisan seperti harta benda boleh hilang atau habis, tetapi
warisan berupa cara hidup yang baik itu tidak akan mudah hilang jika para
penerus atau pengikutnya hidup berpolakan cara hidupnay secara terun-temurun.
Warisan yang nyata dari pendiri
adalah kharisma dan spiritualitas. Tidak hanya sekedar saya ketahui bahwa
kharisma dan spiritualitas itu dari pendiri tetapi saya harus akui bahwa
warisan itu dasarnay berpolakan dari cara hidup Yesus Maria Yoseph yang menjadi
guru ketaatan dan kesiap-sediaan dan lain-lain.
Warisan dari pendiri itu juga
menjadi milik atau harta kekayaan Gereja, Kongregasi, dan saya sendiri. warisan
pendiri yang nyata saya dapat ketahui lewat buku-buku atau dokumen-dokumen
kongregasi, dapat mendengar dari para suster karena saya telah mendalami buku
“Masa Lampau Tantangan untuk Masa yang akan datang”. Masa lampau adalah guru
bagi masa yang akan datang dan juga menjadi dasar bagi masa yang akan datang.
Warisan itu harus saya hidupi dan
hayati melalui action atau tindakan yang nyata dari setiap penerus atau
pengikutnya yakni saya sendiri.
Tanggung jawab : walaupun bukan
tanggung jawab saya tetpi saya harus peka dan membantu teman dalam melakukan
pekerjaannya.Ketaatan : taat terhadap tuhan lewat para suster pembimbing dan
rekan-rekan novis dalam bentuk teguran dan nasehat.
Saya harus mampu menghidupi dan
mempraktekkan dalam hidup baik secara komunitas maupun dalam hidup atau
kebersamaan dengan orang-orang yang bukan sebagai penerus atau pengikutnya.
Melalui pendalaman kharisma dan spiritualitas saya dapat memetik suatu hal yang
pentingdan berharga dari Pater pendiri yaitu : sikap yang pantang mneyerah dari
pendiri dalam memulai atau membentuk kongregasi. Sikap keberanian pendiri yang
pada masa-masa sulit yakni revolusi Prancis.
Bersikap membangun semangat umat
katolik pada masa itu khususnya bagi wanita-wanita muda.
Tekun dalam doa.
Ketaatan yang sangat dijunjung
tingggi.
Mampu berpikir untuk masa depan.
“semuanya itu hanya untuk
kehendak Allah”
“I do not choose my own way”
The Spirit Who Moves Me
Sr. Kristiwati Ributu
Roh yang menggerakkan saya
sehingga saya berada di Novisiat untuk meraih impian saya. Impian saya begitu erat hubungannya dengan Roh dan hidup saya, dan
saya bersyukur boleh mengenal bahkan tinggal dan hidup bersama para
suster Jesus Maria Joseph serta mengenal secara khusus kekhasan yaitu
Kharisma dan Spiritualitas. Melayani, makan bersama, berdoa bersama, dan rekreasi bersama
merupakan sebagian tradisi yang dihidupi oleh para suster pertama, sampai sekarang
ini.
Menyumbangkan hidup dalam
melayani bukan hal yang gampang dan juga bukan
hal yang berat sekali untuk dilakukan secara nyata dalam kehidupan yang
konkrit. Warisan yang harus diteladani oleh anggota kongregasi SJMJ yaitu
kharisma dan spiritualitas yang diwujudkan secara nyata.
Dan setelah saya melihat,
belajar cara hidup para suster SJMJ, saya merasa kagum dan bangga karena para
suster Jesus Maria Joseph begitu bersemangat dan bekerja bagaikan raksasa demi
untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dengan terbuka dan penuh kerelaan hati dan saya
bersyukur boleh menjadi anggota muda kongregasi walaupun masih tahap pembinaan
di Novisiat. Semangat dan Kharisma kongregasi meneladani Yesus Kristus. Sebagai pengikut kristus Tugas utama saya adalah mewartakan Injil dengan
menegur teman yang berbuat salah, rendah hati, rela berkurban, melayani sesama
dengan sukacita dan tanpa pamrih.
Semangat dan Kharisma pendiri
saya hidupi mulai dari saya mengucapkan janji-janji saya untuk menjadi seorang
novis yang siap sedia melatih diri agar saya taat dalam janji-janji saya,
melaksanakan tugas dan bertanggung jawab dengan pengabdian tanpa pamrih kepada
Allah dan sesama.
Berbicara adalah pengungkapkan
kata-kata atau kalimat kepada orang lain. Tuhan memberikan setiap orang suara
untuk bisa berkata-kata dan berkomunikasi dengan orang lain baik itu kita gugup
ataupun tidak, kita sudah memiliki suara. Kekurangan bukanlah penghayatan bagi
kita untuk tidak berkomunikasi dengan orang lain tetapi rasa malu lah yang membuat
kita minder dan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain.
Suara adalah karunia dan anugerah
terindah yang Tuhan berikan kepada saya, tanpa suara saya tidak mungkin berada
di tempat ini (Novisiat SJMJ) dan menjadi Novis. Dengan adanya suara ini saya
mengungkapkan keinginan dan kemauan saya untuk menjadi seorang suster hingga
saat ini saya berada di Novisiat ini.
Suara tidak hanya membawa dampak
negatif yaitu melalui tutur kata saya yang kurang baik terhadap sesama yang
melukai hati mereka. Dan dalam kontemplasi hari ini Tuhan mengajarkan saya
untuk bisa berbicara bijaksana yaitu dengan selalu sadara akan diri sendiri,
mengenal dan memahami keterbatasan dan kekurangan orang lain, dan tidak mudah
untuk mengeluarkan kata-kata yang kurang baik.
Dalam hidup berkomunitas
kebijaksanaan dalam berbicara sangatlah penting karena dalam kebersamaan di
komunitas saya tidak hanya tinggal dengan orang-orang yang satu kampong, dan
daerah, karakter dan usia seperti saya tetapi dengan orang yang memiliki
karakter, usia, kampong dan daerah yang berbeda. Maka dari itu bijaksana dalam
berbicara sangatlah penting agar dalam kebersamaan di komunitas tercipta
suasana yang harmonis.
Kata Santo Basilius jika dalam
komunitas ada suster yang menjelekkan rekan susternya maka lebih baik suster
itu dikeluarkan dari pada dibiarkan untuk membuat kejahatan yang lebih besar
lagi , dan nilai berbicara dengan bijkasana ini berhubungan dengan kharisma dan
spiritualitas kita dalam pelayanan terhadap orang banyak kita harus menggunakan
bahasa yang baik yaitu dalam berbicara.
Saya sebagai suster harus bisa
memilah-milah kata yang baik untuk diungkapkan kepada orang lain dan tidak
memanfaatkan situasi serta keadaan suster ataupun orang awam demi kepentingan
diri saya sendiri sebab hal-hal seperti ini tidak masuk dalam kharisma dan
spiritualitas tarekat yang saya pilih.
Kharisma dan Spiritualitas adalah
kunci dari Pater Mathias Wolff mengerjakan segala tugas dengan penuh ketaatan
dan kehidupan iman yang membuat kehidupan rohaninya sangat kuat dan kokoh.
Dalam perjalanan hidup saya secara pribadi saya merenungkan kharisma dan
spiritualitas semenjak saya masuk dalam kongregasi suster-suster JMJ dan bukan
hanya berhenti sampai di penghayatan tetapi saya melihat pekerjaan-pekerjaan
yang dikerjakan oleh suster-suster. Kharisma dan spiritualitas memang mendarah
daging dalam kehidupan suster-suster SJMJ.
Saya kaitkan dalam kehidupan
pribadi saya, bahwa searing kali saya tidak sungguh-sungguh mengerjakan tugas
dan tanggung jawab yang dipecayakan kepada saya, kini kharisma dan
spiritualitas menjadi titik point yang penting, yang konkrit, yang sungguh
dijiwai dan dilaksanakan lewat setiap tugas yang dipercayakan kepada saya,
semangat Pendiri Kongregasi menjadi teladan untuk suster-suster SJMJ dan
generasi muda dalam Kongregasi.
Belajar kharisma dan
spiritualitas membuat saya mengenal dengan sungguh jatih diri saya. Para suster
menyadarkan saya betapa pentingnya bekerja bagaikan raksasa, cekatan, teliti,
sopan, ramah dan hal-hal baik lainnya yang sebelumnya saya abaikan, yang saya
rasa bahwa betapa pentingnya semua itu. Saya sadar bahwa betapa
hal-hal yang saya kerjakan dengan sungguh-sungguh begitu membantu orang lain
dan menjadi berkat bagi saya sendiri.
Penyadaran diri saya muncul
apabila saya ditegur karena kurang tuntas dalam bekerja, karena teladan Pater
Pendiri yang begitu tegas tetapi bermanfaat dan berguna menjadi contoh bagi saya
bahwa saya harus selalu setia pada tugas dan tanggung jawab terlebih khusus
perjuangan para suster-suster pendahulu yang mempunyai semangat kerja hingga
meninggalkan hasil-hasil yang sangat memuaskan bagi kami generasi-generasi
selanjutnya sekarang ini.
Usaha saya bukan hanya menghayati
semua ini tetapi kharisma dan spiritualitas mengajak saya dan benar-benar
menuntut pribadi saya untuk taat pada segalanya yang baik untuk melayani,
bekerja, berjuang agar dapat membantu setiap orang lewat perbuatan-perbuatan
yang konkrit, dan setia terutama untuk kemuliaan Allah.
Refleksi Masa Stage Novis II
“
Indahnya Hidup Berkomunitas….oo
Hermana Lembean “
Masa stage telah
berlalu, kehadiranku selama dua bulan di komunitas Hermana Lembean, memberikan
banyak pengalaman yang bermakna. Pengalaman suka dan duka yang saya alami mendorong
saya untuk terus berjuang pada pilihan hidup yang sementara saya jalani. Semua
pengalaman yang telah saya alami, membuat saya semakin mengenal diri, serta
mengajakku untuk selalu rendah hati,
sabar, bertanggungjawab,
menghargai waktu, dan terlebih diajak untuk memahami dan menghargai keunikan
setiap pribadi.
Berbagai macam dukungan
dan motivasi dari para suster, di tunjukan dengan cara mereka masing-masing,
lewat sikap, tutur kata, dan tindakan. Sikap kesiap-sediaan apostolic,
penyerahan diri yang utuh, tanggungjawab, rela berkorban, kesabaran, serta
hidup yang penuh cinta, perhatian, penuh sukacita dalam kebersamaan itulah yang
saya dapatkan dari para suster yang berada di komunitas Hermana Lembean.
Walaupun berbeda usia, suku, latar belakang, kemampuan, dan kepribadian bukan
menjadi halangan untuk menciptakan hidup yang rukun dalam komunitas, hal inilah
membuat saya menemukan indahnya hidup berkomunitas.
Saya senang dengan
kehidupan bersama yang akrab dalam komunitas Hermana Lembean, saling mendukung,
menghargai, dan menghormati satu dengan yang lain. Melalui hidup doa, hidup
bersama, dan hidup karya saya semakin bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi
yang dewasa dan matang. Dalam doa saya memperoleh kekuatan dan semangat untuk
terus melangkah serta lebih mantap menanggapi cinta kasih Kristus, dengan
percaya bahwa Allah hadir dalam setiap peristiwa hidup. Masa stage sangat
menguji diri saya untuk mampu bertahan dalam perjuangan hidup panggilan yang
suci.
Maka melalui masa stage
ini, saya berniat dan bertekad untuk terus berlangkah maju, dan setia dalam
panggilan ini dengan segala konsekuensinya.
Hermana Lembean
Community, Thank you for everything, that you gave to me.
Komunitas itu seperti
“sarang lebah”, tempat dimana lebah-lebah hidup dan bekerja.Mereka pun memiliki
suatu organisasi dan kesibukan masing-masing, ada yang bertugas sebagai lebah
Ratu dan Raja, lebah pekerja, dan lebah penjaga sarang. Mereka memiliki sengat,
namun sengat itu digunakan untuk melindungi diri. Mereka memiliki madu yang
sangat berkhasiat yang dapat dinikmati manusia. Ada kesamaan, namun ada juga
perbedaan, seperti yang tidak dimiliki lebah yakni hidup doa. Pernakah anda
melihat lebah berdoa??
Kehidupan dikomunitas
pun seperti itu, saya melihat dan mengalami kehidupan dikomunitas selama stage,
ditengah kesibukan para suster dikarya, para suster tidak meninggalkan Hidup
Doa dan Kebersamaan. Hidup Doa sangat menunjang keberhasilan kita di dalam
hidup bersama di tempat karya. Di dalam hidup doa saya menemukan kekuatan,
ditengah keterbatasan dan kekurangan , saya merasa disempurnakan lewat doa .
Rekreasi sangat penting didalam komunitas, karena saat rekreasi kami dapat
berkumpul bersama, tertawa bersama, dan membagikan shering. Namun, tidak
menuntut kemungkinan, setelah makan malam para suster pun berbagi syering
pengalaman mereka di tempat karya. Saya bersyukur karena saya ditempatkan di
komunitas yang terdiri dari para suster yang medior, senior, dan junior. Saya
banyak menimbah pengalaman yang semakin memotivasi saya untuk semakin mencintai
panggilan saya. Yang sangat menyentuh hati saya sebagai seorang novis adalah, kerendahan hati dari para
suster, meskipun para suster memiliki kemampuan dan tanggungjawab yang besar di
karya, sebagai kepala sekolah, asrama, dapur, akuntan, dan konfeksi. Ketika sudah
kembali dibiara dan berkumpul bersama di komunitas, para suster tetap suster, mereka tidak memperlihatkan dan
menonjolkan kehebatan mereka masing-masing.
Bersatu
kita teguh bercerai kita runtuh, Kebersamaan adalah hal
yang penting, membangun kebersamaan membuat kita menjadi pribadi yang terbuka,
jujur, dan pengasih.
“Pengalaman Yang
Meneguhkan”
(Sr. Klarisa Margaretha
Ronga)
“Selalu Siap Sedia Dan Bekerja Bagaikan Raksasa” itulah yang say hayati dalam komunitas selama saya menjalani masa stage, terlebih dalam karya. Melihat semangat dari para suster di komunitas selalu membangkitkan pula semangat saya dalam menjalani tugas yang diberikan. Pengalaman stage merupakan suatu pengalaman iman yang sangat berharga bagi saya, ada begitu banyak kekayaan rohani yang saya peroleh yang menjadi bagian dari proses perjalanan hidup panggilan saya.
Pertama kali
melangkahkan kaki di komunitas Walterus muncul segala perasaan yang tak
menentu, dan saya bertanya didalam hati saya apakah saya mampu untuk menjalani
ini semua atau tidak? Tetapi dengan bantuan Roh Kudus saya Percaya Tuhan selalu
menyertai saya sehingga dengan penuh
keyakinan dan percaya diri yang kuat say bisa menjalaninya.
Ketika ditugaskan di
asrama saya harus melawan rasa takut dan kurang percaya diri sehingga saya
mampu untuk menjalani tugas itu dengan baik. Pengalaman saya di asrama Putra
membuat saya untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, bijaksana, sabar, tegar,
tekun, dan bertanggung jawab. Ada saat
dimana menuntut saya untuk menjadi orang yang bijak dan dewasa, memang
sangat sulit untuk menghadapi anak-anak zaman now. Bagi saya butuh perjuangan
dan harus menjadi orang yang sabar dan tegar, terkadang berhadapan dengan anak-anak butuh tenaga yang ekstra karena
harus membimbing dan mengarahkan mereka meskipun dari mereka sendiri ada yang
cuek, nakal, suka teriak-teriak, keras kepala, dan tukang melawan. Dengan
kedewasaan yang say miliki saya dapat membimbing dan mengarahkan mereka, meskipun terkadang harus
mengurbankan tenaga, suara, dan perasaan.
Masa stage adalah masa
dimana saya belajar menjadi seorang suster yang dewasa dan bertanggungjawab.
Masa stage juga adalah kesempatan bagi saya untuk melihat, merasakan, dan
mengalami secara nyata hidup dalam komunitas karya. Selama menjalani masa stage
ada begitu banyak pengalaman yang saya alami yang membuat saya bertumbuh dan
berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, terlebih dalam menjalani panggilan
ini.
Lewat
pengalaman-pengalaman iman yang saya alami di komunitas, baik dalam hidup doa,
hidup bersama dan hidup karya membangkitkan semangat saya untuk terus maju
dalam panggilan ini. Dengan semangat yang diwariskan oleh Pater Mathias Wolff,
SJ selalu menjadi motivasi bagi saya untuk menjalani panggilan ini terlebih dalam melayani sesama lewat Kongregasi Suster-Suster Jesus
Maria Joseph.
“Pengalaman Imanku,
Memotivasi Panggilanku”
Setelah menjalani masa
stage ini , saya semakin mengenal diri saya dan panggilan , sekalipun dengan
segala keterbatasan dan kemampuan, pengalaman suka dan duka, saya merasa
semakin ditumbuhkan dan dikembangkan dalam iman, harap, kasih cinta kepada
Tuhan melalui sesama. Saya juga semakin dikuatkan serta dimurnikan dalam iman
panggilan agar tetap bersabar, rendah hati, lebih dewasa dalam segala hal serta
tetap setia.
Kehadiran orang lain
menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam membantu dan membentuk kehidupan saya
agar lebih banyak belajar dari setiap peristiwa maupun pengalaman orang lain.
Pengalaman bekerja bersama dengan orang lain dengan segala keunikannya
masing-masing membuat saya semakin terdorong
dan tergerak untuk bisa memahami dan menghargai orang lain, serta
menolong saya dalam mengenal diri saya karena dari orang lain saya bisa belajar
untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri saya.
Pengalaman ini menjadi
suatu pelajaran bagi saya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan serta membiarkan
saya yang di panggil-Nya seorang diri dalam setiap perjalanan hidupku. Lewat
panggilan-Nya, Tuhan menyatakan cinta-Nya kepadaku yang rapuh dan lemah agar
saya lebih berani untuk “Marilah kita
bertolak ke seberang danau” (Luk 8:22) untuk melihat, merasakan dan
membantu sesama yang lebih rapuh dan lemah dariku serta Yesus menghendaki saya
untuk bertolak jauh lebih dalam lagi
dalam menghayati dan menjalani hidup panggilan saya, sehingga mereka dapat
tersenyum karena Kristus yang semakin
dalam hidup panggilanku.
“Pengalaman Iman dalam Komunitas”
Masa stage menjadi satu
bagian bermakna dalam perjalanan hidup dan panggilan, sebab saya diberi
kesempatan untuk belajar dan mengalami banyak hal tentang komunitas, hidup
bersama, dan karya. Kesempatan ini menyadarkan dan membuka mata saya bahwa
sebagai seorang religius saya diberi kesempatan untuk berkembang menjadi wanita
dewasa, terlebih dalam iman dengan mengabdikan kebebasan dan tanggungjawab
kepada Kongregasi demi perkembangan Kerajaan Allah, serta menjadi penyalur
cinta Kristus kepada sesama.
Kesempatan ini yang
kemudian menghantar saya untuk penghayatan yang lebih dalam lagi tentang
komunitas, doa dan karya. Dalam kesatuan komunitas saya menyadari bahwa
komunitas dan kebersamaan ada, bukan karena kehendak manusia semata melainkan
kehendak Kristus.Kesadaran ini yang menjadi pendorong bagi saya untuk membangun
relasi yang akrab dengan Kristus melalui
doa dan karya yang dilakukan. Sebab kesadaran sebagai milik Tuhan dan bekerja
untuk-Nya hanya dapat tetap hidup, apabila saya secara teratur mengadakan pertemuan
dengan Dia dan berbicara tentang berbagai pengalaman iman yang saya alami.
Segala bentuk kesatuan
dan relasi dengan Tuhan kemudiaan diwujudnyatakan dalam karya bersama dan dalam
komunitas. Saya diarahkan untuk memberi diri bagi karya dan sesama. Tak mudah
memang untuk selalu siap dan dapat memberi diri setiap waktu namun melalui
semangat Pater Wolff yang diwariskan bagi para susternya “Kesiap sediaan
apostolic” yang selalu menyesuaikan diri, tidak lebih tidak kurang dari itu.
Itulah yang terus menerus menyemangati diri saya.
Panggilan hidup yang
saya jalani merupakan anugrah dari Tuhan dan juga sebagai persembahan hidupku
kepada-Nya. Untuk maksud inilah, hidup yang saya jalani ini tak hanya sekedar
mengikuti-Nya melainkan mengabdikan secara utuh kepada-Nya dengan sikap lepas bebas
dan taat kepada-Nya melalui apa yang diharapakan Kongregasi dalam hidup
komunitas. Masa stage telah membantu saya menghayati teladan Yesus ini yaitu
hidup miskin, murni, dan taat melalui cara hidup serta setiap karya yang saya
lakukan . Saya menyadari bahwa pengalaman masa stage tidak akan berjalan tanpa
suatu tantangan. Namun kesatuan bersama Allah yang senantiasa menopang saya
untuk dapat menikmati dan melakukan
segalanya dalam Allah.
Pengalaman selama dua
bulan masa stage, menghantar saya pada sebuah kesadaran untuk bersyukur dan berterimakasih
kepada Tuhan atas rahmat panggilan yang telah Tuhan anugerahkan kepada saya.
Ada begitu banyak pengalaman iman yang telah membuka pikiran, mata, terlebih
hati saya bahwa inilah kenyataan yang harus saya jalani, hadapi, untuk menjadi
seorang suster dalam Kongregasi SJMJ. Saya harus menuntut diri saya untuk
dewasa dan serius dalam segala hal dan tidak main-main dengan panggilan.
Hidup Doa, Hidup
Bersama, Hidup Karya, menjadi satu kesatuan yang harus saya perjuangkan, karena
ketiganya harus berjalan seimbang. Hidup doa menjadi dasar dan pedoman hidup
saya, untuk bisa mengeksplorasikan harapan dan cita-cita mulia saya sebagai
seorang religius. Doa menghantar saya pada sebuah penglihatan iman bahwa saya
harus mensyukuri setiap detik perjalanan hidup yang telah, sementara dan yang
akan saya jalani, sehingga dalam setiap pengalaman hidup ini baik dalam hidup
karya maupun hidup bersama saya tetap bersatu dengan Allah dan peka terhadap
kehadiran Allah.
Hidup bersama itu indah
dan menyenangkan, ibarat bunga teratai yang terdapat tepat dibelakang biara.
Keindahan bunga ini sangat memukau dengan setiap orang yang memandang akan terpesona dengan
keindahannya. Daun, batang, dan bunga berpadu menjadi satu memberikan nuansa
yang sangat indah, begitupun dengan hidup bersama yang boleh saya alami dan
rasakan bersama ketiga suster yang ada di komunitas karya tempat saya stage.
Hidup bersama adalah hidup dimana saya dapat menerima dan memahami orang lain,
hidup saling menguatkan, melayani, mendukung dan saling mengingatkan.
Saya sangat bersyukur
mendapatkan kesempatan ini, karena kurang lebih empat tahun saya dibentuk,
dibina, dibimbing dalam proses pembinaan, kini saya boleh mengalami dengan
nyata hidup berkomunitas dalam komunitas karya yang semakin membuka pikiran dan
hati saya untuk lebih serius. Masa stage ini bukan menjadikan tempat untuk saya
belajar, namun bagi saya masa stage ini adalah hasil dari perkembangan diri
saya, saya dapat mengukur sejauh mana saya telah bertumbuh dalam hidup doa,
hidup bersama, dan hidup karya. Melaui pengalaman masa stage ini, semakin
mendewasakan saya untuk berpikir dan bertindak, semakin menjiwai nilai-nilai
luhur dari Pater Pendiri yang semakin memotivasi saya untuk harus tetap
semangat, bekerja keras, dan terus berjuang.
Puji dan syukur
kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah menuntun saya selama masa stage ini.
Setelah menjalani kenyataan hidup dalam komunitas karya, saya merasa sungguh
mengalami dan merasakan Yerusalem yang sesungguhnya. Saya merasa semakin diuji
untuk lebih tekun dan selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal,
peka, jujur, terbuka, dapat lebih sabar dan bertanggungjawab. Perjumpaan saya
dengan sesama, baik para suster maupun para pegawai dalam karya kerasulan merupakan bagian dari hidup
saya, karena merekalah saya dapat berkembang dalam panggilan hidup yang telah
diberikan Allah dengan cuma-cuma. Pengalaman suka dan duka yang saya alami,
menjadikan saya kuat dalam pengabdian kepada sesama.
Hidup bersama dalam
komunitas ternyata tidaklah mudah. Diperlukan usaha dan perjuangan yang besar.
Kegagalan dan keberhasilan dalam komunitas menjadi warna yang nyata dalam hidup
berkomunitas. Karena dikumpulkan dari berbagai macam budaya, dan adat istiadat
yang berbeda maka kehidupan komunitas tidak selalu mulus. Dengan kekuatan Doa,
saya mampu melewati masa stage dengan baik. Dua bulan adalah waktu yang singkat
bagi saya untuk memahami dan merasakan hidup berkomunitas. Apalagi saya berada
dalam komunitas kecil komunitas “Cantia”. Namun lewat pengalaman bersama para
suster dalam komunitas, memberikan saya gambaran nyata bagaimana hidup bersama
di komunitas karya.
Lewat pengalaman masa stage,
saya disadarkan bahwa setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan dan hal
itu perlu di syukuri sebagai rahmat Tuhan. Dalam hidup bersama kelebihan dan
kekurangan itu bukan untuk bersaing satu dengan yang lain, melainkan untuk
saling melengkapi satu sama lain.
Pengalaman yang saya
dapatkan dalam komunitas “Cantia”, lebih membuka cara berpikir saya kedepan.
Karena segala karya Kongregasi ada di tangan kami semua para tunas muda. Kami
harus bekerja keras seperti para suster agar semua karya Kongregasi semakin
berkembang di tengah dunia yuang semakin canggih.
Pengalaman masa stage
sungguh menumbuh kembangkan keyakinan saya untuk terus berjuang dalam
panggilan, dan membuat saya semakin mantap dan yakin dalam keputusan untuk
menjadi pengikut Tuhan dalam Kongregasi SJMJ.
English Corner
Faith
to From Spiritual Personality
Sr. Bertha Onyaresepan
I am with every present
limited
Not with offer my self
still faith within make
grow become somebody
With so save the key still
the more near with God,
And pray is the way to be
happier always.
God will be waiting the
answer,
Since with prayer, God
will be listen.
God is A Lamp
Sr. Fransiska Nahas
God is a Lamp to light my
path
When I cannot see
He makes the darkness
turn to morn
My God is a leading me
His comfort with the Road
and Staff
He gives courage along
the way
God is A Lamp to lightmy
path
I need to trust obey
And when it seems the
darkest night
And I cannot find my way
I hear to His whisper it’s
all right
Just look to me and pray
Soon it will be morning,
the sun will rise
Night will be lost
God is A Lamp to be light
my path
Till I reach that shining
shore
”Strong Women”
Sr. Rosalina
Strong women hard work
everyday for caution of Body
Give that better from our
self to other
Don’t be afraid not feel
anything
Not let others people
more exploit in our self
Christmas is Coming
Sr. Debora Jeisye
The first Christmas in
Noviciate
It’s so wonderfull for me
When I feel the Christmas
day will be come
Baby Jesus will be born
One year I was waiting for
Christmas day
And now my heart is
beating so fast
Together with all novices
we prepared all things
To praise and glorious
God Name
Thank You God for
everything in my life
Thank You for calling me
to be Your servant
Thank you for give me a
beautifull day everyday…..
"Kronik"
November 2018
Tanggal 07
Hip,,Hip,,Hura,, Happy Birthday to you!!! Hari ini ada yang berulang tahun nih.. Suster Pembimbing
kami JJ Tapi sayang sekali saat ini suster sedang retret kami belum
bisa merayakannya bersama. Kami hanya bisa doakan suster dari sini saja. Happy
Birthday Sr. Hildegardis Mau, SJMJ. Panjang umur, sehat selalu suster.
Tanggal 17
Hari ini ada yang berulang tahun loh.. Sr. Sovia Vivi
namanya.. Happy Birthday yah,, Panjang umur, sehat selalu tetap setia menjalani
panggilan yah…
Desember 2018
Tanggal 01
Hari ini kakak-kakak novis tahun kedua memulai masa POM
mereka selama 2 pekan. Sepi lagi novisiat ini, kami novis satu merasa sedih
terpisah lagi dengan mereka,,, cieee illeee rupa tu betul jow sampe segitunya,,
hehehe memang betul katu eghh.. JJ Semangot yoo!! Kakak-kakak,,,
dede-dede novis satu menunggu kedatangan kakak-kakak.. hehhe ^_^
Tanggal 08
Hari ini adalah Hari raya Maria dikandung Tanpa Noda,
pelindung para novis. Hari ini adalah hari special bagi kami para novis dimana
kami melihat kembali pribadi Bunda Maria yang rendah hati, sederhana, lemah
lembut, dan tentunya sangat menyayangi anaknya. Begitupun Ibu kami dirumah,
kami dibesarkan dan disayangi oleh mereka. Seperti Bunda Maria yang membesarkan
Yesus. “Selamat Pesta Pelindung Para
Novis”.
Tanggal 14
Hari ini kami sangat bahagia, karena kakak-kakak kembali lagi
dan berkumpul lagi dengan kami. Kaka-kakak novis 2 kembali dengan selamat dan
sehat-sehat dengan membawa borongan mereka masing-masing yang diberikan oleh
orang tua POM mereka. Wah banyak sekali berkat yang diberikan. Tuhan Memberkati
Mereka semua.
Tanggal 17
Hip,,hip,,hura,,,, Happy B’day Sr. Rosalina. Ulang tahun pertama di novisiat memang mendebarkan. Tetap
semangat yah,, panjang umur dan sehat selalu tetap setia dengan panggilan Tuhan
ini yah..
By : Sr. Debora Jeisye
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Sabtu, 22 Desember 2018
Lavita Edisi November - Desember 2018
Langganan:
Postingan (Atom)
LAVITA DOLCE EDISI 2021
LAVITA DOLCE JUNI 2021 https://noviciatesjmj.wordpress.com/ https://noviciatesjmj.wordpress.com ...
-
No. 138 Edisi Agustus-Oktober 2018 L AVITA D OLCE ...
