Sabtu, 22 Desember 2018

Lavita Edisi November - Desember 2018




No. 138 Edisi November-December 2018

LAVITA DOLCE


Sr. Jeanne Turangan, SJMJ
Sr. Hildegardis Mau, SJMJ
And All Novices


Moderator : Sr. Jeanne Turangan, SJMJ, Sr. Nirmala, SJMJ, Sr. Sisilia Sisilianingsih, SJMJ

Sr. Hildegardis Mau, SJMJ

Ketua Redaksi : Sr. Francilia Petra Gareso

Editor : Sr. Agatha Jessica, Sr. Paulina Trisna Ayu, Sr. Debora Jeisye.  Lay Out : Sr. Agatha Iluh, Sr. Debora Jeisye

Ilustrator : Sr. Paulina Trisna Ayu, Sr. Agatha Jessica, Sr. Debora Jeisye

Alamat Redaksi : Novisiat JMJ “REGINA CAELI” JL. P. L Kaunang No. 308

Tomohon 95362 SULAWESI UTARA


 

 
Refleksi Kharisma dan Spiritualitas Novis I
  • ”Kharisma dan Spiritualitas                        
  • “Kebebasan dan Kesetian Hati”
  • “Warisan yang dihidupkan dan menjadi Tunas muda Kongregasi yang berkualitas”
  • “Jejak Serigala yang Mengerkah”
  • “Pengorbanan mendatangkan Sukacita”
  •  Pribadi Pater Mathias Wolff sumber Inspirasi dalam Panggilan Hidupku
  • “Warisan Pendiri”
  • The Spirit Who Moves Me
  • Bijaksana dalam Berbicara
  • Iman dan Bekerja   
Refleksi Masa Stage Novis 2
  • “Betapa Mulia Menjadi Pengikut Tuhan”
  • “Unik-nya Hidup Berkomunitas”
  • “Pengalaman Yang Meneguhkan”
  • “Pengalaman Imanku, Memotivasi Panggilanku”
  • “Pengalaman Iman dalam Komunitas”
  • "Ibarat Bunga Teratai Dibelakang Biara"
English Corner
Kronik
Happy Birthday

Sapaan Redaksi
             Para pembaca yang terkasih salam jumpa di edisi Lavita Dolce ketiga di tahun ini. Lavita Dolce bulan ini berisi tentang refleksi Kharisma dan Spiritualitas Novis 1, dan refleksi Masa Stage Novis 2, English Corner dan Kronik, dan juga tidak lupa kami tampilkan daftar ulang Tahun para suster.
              Seiring berjalannya waktu, semua peristiwa hidup semakin bermakna, dan semua itu karena kesadaran akan kasih setia Tuhan yang selalu menyertai kita semua. Selamat Natal dan Tahun baru. Selamat Pesta Keluarga Kudus dan Selamat Membaca.
 



Refleksi Kharisma dan Spiritualitas Novis Tahun 1

  ”Kharisma dan Spiritualitas Pendorongku” 
Sr. Virginia Mandang



         Pengalaman-pengalaman yang saya lewati di dalam biara berbeda jauh dengan apa yang saya jalani diluar biara. Sebelum saya masuk biara, saya mengira kalau menjadi seorang suster apalagi melihat dari suster-suster yang saya kenal  di dalam biara hidupnya enak dan biasa-biasa saja bila dibandingkan dengan kehidupan  kaum awam diluar, tetapi setelah saya masuk biara dan meliihat kehidupan sehari-hari dari seorang suster apalagi suster-suster Jesus Maria Joseph ternyata suster-suster adalah seorang pekerja keras dimana mereka mempunyai karya dimana-mana baik dalam bidang kesehatan, pendidikan, maupun pastoral dalam melayani masyarakat dan Gereja.

          Dibalik itu semua ternyata ada  Kharisma dan Spiritualitas yang dihidupi dan dihayati dalam hidup bersama Suster-suster Jesus Maria Joseph dan itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari saya lewat pekerjaan, pelayanan di Gereja, sapa-menyapa satu dengan yang lain  baik dengan suster-suster pembimbing, rekan-rekan novis dan suster-suster di komunitas. Pater Mathias Wolff, SJ adalah pendiri kongregasi, dialah yang menerapkan semua itu dan menanamkannya pada suster-susternya sehingga terus bertumbuh dan berkembang dan sekarang juga saya menghidupi kharisma dan spiritulitas dari Pater Mathias Wolff SJ. lewat pembinaan di Novisiat, di mana saya dibetuk dan dibina menjadi wanita tangguh.

          Roh kudus yang membimbing saya menjadi seorang religius untuk bertekad dan  memberanikan diri menjadi suster biarawati SJMJ, dan akhirnya sekarang saya  berada di Novisiat dengan teman-teman yang istimewa. Saya diajarkan tentang  kharisma yaitu  "Selalu siap sedia bagi jiwa-jiwa, dan saya mau bekerja bagaikan raksasa" kata-kata ini terkadang atau sering saya tidak hayati misalnya jika ada teman-teman yang meminta bantuan, saya masih menolak berarti saya tidak menerapkan sikap siap sedia dalam diri saya dan sebagai pekerja keras. Dalam kehidupan sehari-hari saya melihat,  para suster bangun pagi-pagi menyiapkan segala sesuatunya dan sesudahnya pergi bekerja di sekolah, konveksi, dapur, belajar/kuliah. Ada juga yang melayani dalam bidang kesehatan sehingga terkadang para suster kembali ke biara sudah sore dan itulah bentuk pengabdian dan kecintaan para suster terhadap Kongregasi. Pengabdian diri para suster menjadi motivasi bagi saya yang masih belajar untuk menjadi seorang suster yang dewasa, bertanggung jawab dan tidak takut akan tugas yang diberikan oleh Pimpinan.

           Untuk itu sikap lepas bebas, sebagai tanda penyerahan diri kepada Bapa, juga harus saya persembahkan, jika saya lepas bebas dan penuh penyerahan kepada Allah, semangat Kharisma dan Spiriualitas dapat saya maknai dan didukung oleh dorongan Roh Kudus, saya akan menjalaninya.


“Penghayatan yang utuh adalah jalan untuk memurnikan panggilan. Kharisma dan Spiritualitas adalah kekuatan yang mendorong dalam panggilan”




                                               “Kebebasan dan Kesetian Hati”

                                                            Sr. Natalia Muti



      Pengalaman saya selama mendalami Spiritualitas dan Kharisma sangat membantu dan memampukan saya untuk bisa menghayati kaul-kaul yang ada dalam Konstitusi JMJ yaitu Kemiskinan, Ketaatan dan Kemurnian. Belajar kharisma dan spiritualitas bukanlah hal yang kecil, tetapi sangat mendalam dan banyak hal yang saya dapat ketahui dan saya kembangkan, yang dulu tidak bisa menjadi bisa. Terutama dalam mengikuti pembinaan di Novisiat yang melatih diri saya untuk disiplin, bertanggung jawab, baik dalam kerja maupun dalam doa.

        Saya secara pribadi sangat bersyukur kepada Tuhan karena  melalui belajar Kharisma dan Spiritualitas membuat dan memampukan saya untuk selalu menyesuaikan diri, siap sedia, untuk melaksanakan kehendak Allah. Menjadi seorang religius bukan saja karena iman dan kasih, tetapi karena pengharapan yang besar kepada Tuhan, agar dalam usaha-usaha bisa terlaksana seturut dengan kehendak Tuhan. Tantangan adalah tanda karya Allah, Yesus sangat mencintai orang  yang sederhana dan rendah hati. Dalam kontemplasi saya banyak hal yang saya temukan dalam diri saya yaitu kekurangan, kelemahan, dan kelebihan saya. seperti Pater Mathias Wolff mempunyai kekurangan dan kelebihan ketika ia jatuh, maka ia berusaha untuk bangun dan menjadi orang yang berguna bagi sesama dan Allah. Begitu pun saya ketika saya ditantang dan dibina oleh suster pembimbing itulah yang membuat saya berubah taat dan setia kepada Tuhan. Pengharapan saya adalah Tuhan karena Tuhanlah yang menggendong dan mengingat saya. Mengikuti Pembinaan di Novisiat tidak mudah, banyak tantangan dan cobaan yang harus saya lalui. Ketika saya berjalan terkadang melalui jalan yang lurus dan juga jalan yang berliku-liku dengan penuh bebatuan untuk mencapai tujuan saya.

       Bebas dari segalanya harus mempunyai hati yang damai, bahagia, gembira dan mencari Tuhan dalam segala hal.




“Warisan yang dihidupkan dan menjadi Tunas muda Kongregasi yang berkualitas”

                                                        Sr. Maria Cicilia Hoke



       “Kesiapsiagaan bagi jiwa-jiwa dan selalu menyesuaikan diri tidak lebih dan tidak kurang dari itu.” Merupakan warisan yang terindah yang diberikan P. Wolff sebagai warisan bagi suster-suster JMJ siap diutus ketempat yang baru. Banyak yang saya pelajari ketika saya menggabungkan diri dalam Kongregasi SJMJ. Dari aspiran, postulan dan sekarang sebagai novis saya dibimbing terus-menerus sampai saya tahu apa maksud dan arti dari proses pembinaan. Dari kamar pembimbing ke dapur dan refter merupakan tugas mulia yang diberikan, dan saya harus menerimanya dengan hati yang ikhlas dan tulus.

         Siap sedia bagi jiwa-jiwa dan saya mau bekerja bagaikan raksasa. Saya ditugaskan di refter untuk melatih melayani melalui tugas kerumahtanggaan. Hal itu menjadi kesenangan bagi saya, namun terkadang saya sedih karena dirumah saya tidak pernah mengatur piring untuk makan, tetapi disini saya harus belajar menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik         Pater Wolff mengajarkan saya untuk humoris dan menerima hal yang diberikan orang lain kepada saya baik yang menyenangkan maupun tidak. Itu merupakan proses dalam masa pembentukkan diri saya. pada waktu itu saya down tetapi saya harus bangkit dan merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Rendah hati merupakan sifat yang dijunjung tinggi Pater Wolff agar tidak sombong dan mampu menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Bertanya jika tidak tahu dan jangan pernah berbuat hal yang tidak dikehendaki pimpinan. Kreatif agar bisa membagikan talenta untuk menyenangkan Tuhan dan sesama. Seperti saya yang menghias Bunda Maria di refter sehingga setiap orang yang melihatnya memuliakan Allah. 
       Mati raga merupakan sifat yang harus saya contohi dari P. Wolff misalnya menghabiskan makanan yang tidak disukai terlebih dahulu dan membiarkan orang lain makan makanan yang saya sukai, hal itu merupakan mati raga dimana saya harus menahan segala yang saya suka diberikan kepada orang lain, dari pada saya harus  makan apa yang saya suka. Egois dan keras kepala harus saya hilangkan, menerima masukan dari orang lain merupakan sifat dari Pater Wolff yaitu cinta pada sesama.




                                             “Jejak Serigala yang Mengerkah”

                                                     Sr. Clara Vebiola Palapa



       Dalam, menghayati kharisma dan Spiritualitas, tentunya diawali dengan sejarah. Sebagai seorang novis dalam Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph, yang didirikan oleh seorang Jesuit, yaitu Pater Mathias Wolff, secara pribadi saya merasa bangga apalagi setelah membaca dan mendalami sosok dari Pater Mathias Wolff, SJ terlebih tentang Khrarisma dan Spiritualitas yang membuat saya untuk berani melangkah mengikuti panggilan hidup membiara.

        Kepekaan sorang Pater Mathias Wolff dalam melihat kebutuhan umat yang besar, penyerahan diri kepada Allah membuatnya berani menghadapi masalah-masalah yang datang menghampirinya demi membela iman. Dalam riwayat hidup P. Mathias Wolff, SJ, hal 71-77. Disitu saya belajar bahwa ketika saya benar-benar tekun dalam rumah pembinaan dan sungguh-sungguh berjalan bersama Yesus dalam doa, ibadah, dan meditasi, berarti saya akan mampu menjadi seorang suster yang kuat, bertanggung jawab, tidak mudah putus asa dan berani.

         Dengan mengetahui perjuangan Pater Mathias Wolff, SJ sebagai seorang Imam yang memperjuangkan keadilan, peduli akan masa depan banyak orang, terutama bagi kaum perempuan dan perjuangannya bersama para suster dalam mempertahankan kongregasi yang saat itu ia harus meninggalkan suster-susternya, karena Pater Wolff berusaha untuk taat kepada Allah dan siap diutus ke wilayah yang jauh, sehingga terpisah dari suster-susternya.

         Lewat peristiwa-peristiwa yang diawali oleh para suster yang pertama membuaat saya untuk merubah prilaku saya yang tidak baik, yaitu keegoisan, irihati, kesombongan, dll. Dengan mengetahui sejarah kongregasi muncul pertanyaan dalam diri saya, Apakah saya bisa menjadi seorang suster yang bisa berguna bagi kongregasi atau sebalikya? Apakah saya sebagai orang muda dalam kongregasi, bisa melanjutkan perjuangan dari para suster pertama, atau malah membuat kongregasi tidak berkembang? Dan semua pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya meninggalkan prilaku saya yang tidak baik, belajar dari kesalahan yang saya lakukan, belajar peka terhadap hal-hal kecil, bertanggung jawab, mau menerima teguran atau nasihat. Mau dibina dan membina diri, sehingga saya bisa menjadi seorang suster yang berguna bagi kongregasi, melayani Tuhan dan sesama dan  berusaha untuk menjadi seorang suster yang benar-benar menghayati dan mengikuti jejak  Pater Pendiri, dengan menghidupi Kharisma dan Spiritualitas yang diwariskan kepada para suster-susternya.




                                      “Pengorbanan mendatangkan Sukacita”

                                                Sr. Fransiska Maria Nahas


      Semangat yang ada di dalam diri saya, membawa saya untuk menjalani panggilan ini. Roh Kudus yang mendorong serta menggerakkan hati saya untuk memilih dan menjalani panggilan yang diberikan Tuhan kepada saya melalui Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph.

      Saya merefleksikan bahwa dalam menjalani hidup panggilan untuk menjadi seorang religius apalagi dalam masa sekarang ini, ada banyak tantangan yang harus saya lewati.  Perjuangan dan pengorbanan para suster setelah saya melihatnya sungguh besar dan mulia, misalnya dalam karya pendidikan disekolah para suster diberikan tanggung jawab untuk mendidik dan mengajar para murid. Dalam mengajar murid-murid para suster dengan sabar dan penuh perhatian, serta mengajak anak-anak untuk lebih aktif dalam pelajaran mereka. Para suster yang saya lihat ternyata juga pekerja keras, humoris, siap sedia dan tidak mengenal lelah. Itu semua didorong juga oleh Kharisma dan Spiritualitas dari pendiri kongregasi yakni Pater Mathias Wolff, SJ yang telah diwariskan kepada para suster turun-temurun. Kharisma dan Spiritualitas yang ditinggalkan tidak hilang dari para suster bahkan sampai sekarang, dan selalu dimulai sejak dirumah pembinaan. Misalnya dalam Novisiat ini, kharisma itu siap sedia dan saya mau bekerja bagai raksasa. Siap sedia ketika saya ditunjuk untuk menjadi dirigen dalam memimpin koor meskipun ada bagian-bagian tertentu yang sulit tetapi saya secara pribadi tidak boleh menolak, karena itu adalah salah satu bentuk kesiap sediaan saya. seperti Pater Wolff siap diutus kemana saja, begitupun saya jika saya diutus untuk melayani umat, dalam misa saya harus melayani dengan hati gembira dan sukacita.

         Spiritualitas kerasulan yang ada sekarang di dalam diri saya harus saya tanamkan dan kembangkan misalnya dalam hal kerja, saya diutus oleh pembimbing untuk pindah ke tempat kerja lain, dari was saya pinda  PU (pekerjaan umum) itu adalah salah satu bentuk spirit saya, dimana Roh lah yang bekerja dalam diri saya untuk lebih memperluas kerajaan Allah lewat tindakan-tindakan konkrit saya. Dalam arti ini, bahwa apapun tindakan yang saya lakukan semua tergolong dalam Kharisma dan Spiritualitas baik dalam pelayanan maupun pekerjaan saya. saya percaya akan iman saya kepada Tuhan, bahwa Tuhan sama dekatnya dalam doa, seperti Dalam berbagai macam pelayanan kepada sesama.

      Pengharapan akan Allah, yang memberi kepastian kepada saya, jika saya mau berusaha menemukan jalan keluar dalam kesulitan. Perjuangan dan Pengorbanan akan berarti jika dijalani dengan semangat.




              

                                                            “Warisan Pendiri”

                                                           Sr. Monika Saladat

        Warisan tidak selamanya berupa harta benda, tetapi berupa cara hidup yang baik yang diteruskan kepada penerus atau pengikutnya. Warisan seperti harta benda boleh hilang atau habis, tetapi warisan berupa cara hidup yang baik itu tidak akan mudah hilang jika para penerus atau pengikutnya hidup berpolakan cara hidupnay secara terun-temurun.

     Warisan yang nyata dari pendiri adalah kharisma dan spiritualitas. Tidak hanya sekedar saya ketahui bahwa kharisma dan spiritualitas itu dari pendiri tetapi saya harus akui bahwa warisan itu dasarnay berpolakan dari cara hidup Yesus Maria Yoseph yang menjadi guru ketaatan dan kesiap-sediaan dan lain-lain.

         Warisan dari pendiri itu juga menjadi milik atau harta kekayaan Gereja, Kongregasi, dan saya sendiri. warisan pendiri yang nyata saya dapat ketahui lewat buku-buku atau dokumen-dokumen kongregasi, dapat mendengar dari para suster karena saya telah mendalami buku “Masa Lampau Tantangan untuk Masa yang akan datang”. Masa lampau adalah guru bagi masa yang akan datang dan juga menjadi dasar bagi masa yang akan datang.

        Warisan itu harus saya hidupi dan hayati melalui action atau tindakan yang nyata dari setiap penerus atau pengikutnya yakni saya sendiri.

Tanggung jawab : walaupun bukan tanggung jawab saya tetpi saya harus peka dan membantu teman dalam melakukan pekerjaannya.Ketaatan : taat terhadap tuhan lewat para suster pembimbing dan rekan-rekan novis dalam bentuk teguran dan nasehat.

Saya harus mampu menghidupi dan mempraktekkan dalam hidup baik secara komunitas maupun dalam hidup atau kebersamaan dengan orang-orang yang bukan sebagai penerus atau pengikutnya. Melalui pendalaman kharisma dan spiritualitas saya dapat memetik suatu hal yang pentingdan berharga dari Pater pendiri yaitu : sikap yang pantang mneyerah dari pendiri dalam memulai atau membentuk kongregasi. Sikap keberanian pendiri yang pada masa-masa sulit yakni revolusi Prancis.


Bersikap membangun semangat umat katolik pada masa itu khususnya bagi wanita-wanita muda.
Tekun dalam doa.
Ketaatan yang sangat dijunjung tingggi.
Mampu berpikir untuk masa depan.

                                       “semuanya itu hanya untuk kehendak Allah”

                                                 “I do not choose my own way”





                                                     The Spirit Who Moves Me

                                                          Sr. Kristiwati Ributu


         Roh yang menggerakkan saya sehingga saya berada di Novisiat untuk meraih impian saya. Impian saya begitu erat hubungannya dengan Roh dan hidup saya, dan saya bersyukur boleh mengenal bahkan tinggal dan hidup bersama para suster Jesus Maria Joseph serta mengenal secara khusus kekhasan yaitu Kharisma dan Spiritualitas. Melayani, makan bersama, berdoa bersama, dan rekreasi bersama merupakan sebagian tradisi yang dihidupi oleh para suster pertama, sampai sekarang ini.

            Menyumbangkan hidup dalam melayani bukan hal yang gampang dan juga bukan hal yang berat sekali untuk dilakukan secara nyata dalam kehidupan yang konkrit. Warisan yang harus diteladani oleh anggota kongregasi SJMJ yaitu kharisma dan spiritualitas yang diwujudkan secara nyata.

          Dan setelah saya melihat, belajar cara hidup para suster SJMJ, saya merasa kagum dan bangga karena para suster Jesus Maria Joseph begitu bersemangat dan bekerja bagaikan raksasa demi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dengan terbuka dan penuh kerelaan hati dan saya bersyukur boleh menjadi anggota muda kongregasi walaupun masih tahap pembinaan di Novisiat. Semangat dan Kharisma kongregasi meneladani Yesus Kristus. Sebagai pengikut kristus Tugas utama saya adalah mewartakan Injil dengan menegur teman yang berbuat salah, rendah hati, rela berkurban, melayani sesama dengan sukacita dan tanpa pamrih.

          Semangat dan Kharisma pendiri saya hidupi mulai dari saya mengucapkan janji-janji saya untuk menjadi seorang novis yang siap sedia melatih diri agar saya taat dalam janji-janji saya, melaksanakan tugas dan bertanggung jawab dengan pengabdian tanpa pamrih kepada Allah dan sesama.




                                                     Bijaksana dalam Berbicara

                                                               Sr. Rosalina


        Berbicara adalah pengungkapkan kata-kata atau kalimat kepada orang lain. Tuhan memberikan setiap orang suara untuk bisa berkata-kata dan berkomunikasi dengan orang lain baik itu kita gugup ataupun tidak, kita sudah memiliki suara. Kekurangan bukanlah penghayatan bagi kita untuk tidak berkomunikasi dengan orang lain tetapi rasa malu lah yang membuat kita minder dan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain.

          Suara adalah karunia dan anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada saya, tanpa suara saya tidak mungkin berada di tempat ini (Novisiat SJMJ) dan menjadi Novis. Dengan adanya suara ini saya mengungkapkan keinginan dan kemauan saya untuk menjadi seorang suster hingga saat ini saya berada di Novisiat ini.

        Suara tidak hanya membawa dampak negatif yaitu melalui tutur kata saya yang kurang baik terhadap sesama yang melukai hati mereka. Dan dalam kontemplasi hari ini Tuhan mengajarkan saya untuk bisa berbicara bijaksana yaitu dengan selalu sadara akan diri sendiri, mengenal dan memahami keterbatasan dan kekurangan orang lain, dan tidak mudah untuk mengeluarkan kata-kata yang kurang baik.

      Dalam hidup berkomunitas kebijaksanaan dalam berbicara sangatlah penting karena dalam kebersamaan di komunitas saya tidak hanya tinggal dengan orang-orang yang satu kampong, dan daerah, karakter dan usia seperti saya tetapi dengan orang yang memiliki karakter, usia, kampong dan daerah yang berbeda. Maka dari itu bijaksana dalam berbicara sangatlah penting agar dalam kebersamaan di komunitas tercipta suasana yang harmonis.

       Kata Santo Basilius jika dalam komunitas ada suster yang menjelekkan rekan susternya maka lebih baik suster itu dikeluarkan dari pada dibiarkan untuk membuat kejahatan yang lebih besar lagi , dan nilai berbicara dengan bijkasana ini berhubungan dengan kharisma dan spiritualitas kita dalam pelayanan terhadap orang banyak kita harus menggunakan bahasa yang baik yaitu dalam berbicara.

      Saya sebagai suster harus bisa memilah-milah kata yang baik untuk diungkapkan kepada orang lain dan tidak memanfaatkan situasi serta keadaan suster ataupun orang awam demi kepentingan diri saya sendiri sebab hal-hal seperti ini tidak masuk dalam kharisma dan spiritualitas tarekat yang saya pilih.




                                                           Iman dan Bekerja

                                                     Sr. Bertha Onyaresepan


       Kharisma dan Spiritualitas adalah kunci dari Pater Mathias Wolff mengerjakan segala tugas dengan penuh ketaatan dan kehidupan iman yang membuat kehidupan rohaninya sangat kuat dan kokoh. Dalam perjalanan hidup saya secara pribadi saya merenungkan kharisma dan spiritualitas semenjak saya masuk dalam kongregasi suster-suster JMJ dan bukan hanya berhenti sampai di penghayatan tetapi saya melihat pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan oleh suster-suster. Kharisma dan spiritualitas memang mendarah daging dalam kehidupan suster-suster SJMJ.

       Saya kaitkan dalam kehidupan pribadi saya, bahwa searing kali saya tidak sungguh-sungguh mengerjakan tugas dan tanggung jawab yang dipecayakan kepada saya, kini kharisma dan spiritualitas menjadi titik point yang penting, yang konkrit, yang sungguh dijiwai dan dilaksanakan lewat setiap tugas yang dipercayakan kepada saya, semangat Pendiri Kongregasi menjadi teladan untuk suster-suster SJMJ dan generasi muda dalam Kongregasi.

       Belajar kharisma dan spiritualitas membuat saya mengenal dengan sungguh jatih diri saya. Para suster menyadarkan saya betapa pentingnya bekerja bagaikan raksasa, cekatan, teliti, sopan, ramah dan hal-hal baik lainnya yang sebelumnya saya abaikan, yang saya rasa bahwa betapa pentingnya semua itu. Saya sadar bahwa betapa hal-hal yang saya kerjakan dengan sungguh-sungguh begitu membantu orang lain dan menjadi berkat bagi saya sendiri.

        Penyadaran diri saya muncul apabila saya ditegur karena kurang tuntas dalam bekerja, karena teladan Pater Pendiri yang begitu tegas tetapi bermanfaat dan berguna menjadi contoh bagi saya bahwa saya harus selalu setia pada tugas dan tanggung jawab terlebih khusus perjuangan para suster-suster pendahulu yang mempunyai semangat kerja hingga meninggalkan hasil-hasil yang sangat memuaskan bagi kami generasi-generasi selanjutnya sekarang ini.

     Usaha saya bukan hanya menghayati semua ini tetapi kharisma dan spiritualitas mengajak saya dan benar-benar menuntut pribadi saya untuk taat pada segalanya yang baik untuk melayani, bekerja, berjuang agar dapat membantu setiap orang lewat perbuatan-perbuatan yang konkrit, dan setia terutama untuk kemuliaan Allah.

Refleksi Masa Stage Novis II 


“ Indahnya Hidup Berkomunitas….oo  Hermana  Lembean “

( Sr.Rosaliani Tovan  Waja)

     Masa stage telah berlalu, kehadiranku selama dua bulan di komunitas Hermana Lembean, memberikan banyak pengalaman yang bermakna. Pengalaman suka dan duka yang saya alami mendorong saya untuk terus berjuang pada pilihan hidup yang sementara saya jalani. Semua pengalaman yang telah saya alami, membuat saya semakin mengenal diri, serta mengajakku untuk selalu rendah hati,  sabar,  bertanggungjawab, menghargai waktu, dan terlebih diajak untuk memahami dan menghargai keunikan setiap pribadi.

Berbagai macam dukungan dan motivasi dari para suster, di tunjukan dengan cara mereka masing-masing, lewat sikap, tutur kata, dan tindakan. Sikap kesiap-sediaan apostolic, penyerahan diri yang utuh, tanggungjawab, rela berkorban, kesabaran, serta hidup yang penuh cinta, perhatian, penuh sukacita dalam kebersamaan itulah yang saya dapatkan dari para suster yang berada di komunitas Hermana Lembean. Walaupun berbeda usia, suku, latar belakang, kemampuan, dan kepribadian bukan menjadi halangan untuk menciptakan hidup yang rukun dalam komunitas, hal inilah membuat saya menemukan indahnya hidup berkomunitas.

     Saya senang dengan kehidupan bersama yang akrab dalam komunitas Hermana Lembean, saling mendukung, menghargai, dan menghormati satu dengan yang lain. Melalui hidup doa, hidup bersama, dan hidup karya saya semakin bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang dewasa dan matang. Dalam doa saya memperoleh kekuatan dan semangat untuk terus melangkah serta lebih mantap menanggapi cinta kasih Kristus, dengan percaya bahwa Allah hadir dalam setiap peristiwa hidup. Masa stage sangat menguji diri saya untuk mampu bertahan dalam perjuangan hidup panggilan yang suci.

Maka melalui masa stage ini, saya berniat dan bertekad untuk terus berlangkah maju, dan setia dalam panggilan ini dengan segala konsekuensinya.

Hermana Lembean Community, Thank you for everything, that you gave to me.




                                             “Unik-nya Hidup Berkomunitas”
                                                 (Sr. Clara Desy Advenia)
 


    Komunitas itu seperti “sarang lebah”, tempat dimana lebah-lebah hidup dan bekerja.Mereka pun memiliki suatu organisasi dan kesibukan masing-masing, ada yang bertugas sebagai lebah Ratu dan Raja, lebah pekerja, dan lebah penjaga sarang. Mereka memiliki sengat, namun sengat itu digunakan untuk melindungi diri. Mereka memiliki madu yang sangat berkhasiat yang dapat dinikmati manusia. Ada kesamaan, namun ada juga perbedaan, seperti yang tidak dimiliki lebah yakni hidup doa. Pernakah anda melihat lebah berdoa??


    Kehidupan dikomunitas pun seperti itu, saya melihat dan mengalami kehidupan dikomunitas selama stage, ditengah kesibukan para suster dikarya, para suster tidak meninggalkan Hidup Doa dan Kebersamaan. Hidup Doa sangat menunjang keberhasilan kita di dalam hidup bersama di tempat karya. Di dalam hidup doa saya menemukan kekuatan, ditengah keterbatasan dan kekurangan , saya merasa disempurnakan lewat doa . Rekreasi sangat penting didalam komunitas, karena saat rekreasi kami dapat berkumpul bersama, tertawa bersama, dan membagikan shering. Namun, tidak menuntut kemungkinan, setelah makan malam para suster pun berbagi syering pengalaman mereka di tempat karya. Saya bersyukur karena saya ditempatkan di komunitas yang terdiri dari para suster yang medior, senior, dan junior. Saya banyak menimbah pengalaman yang semakin memotivasi saya untuk semakin mencintai panggilan saya. Yang sangat menyentuh hati saya sebagai seorang  novis adalah, kerendahan hati dari para suster, meskipun para suster memiliki kemampuan dan tanggungjawab yang besar di karya, sebagai kepala sekolah, asrama, dapur, akuntan, dan konfeksi. Ketika sudah kembali dibiara dan berkumpul bersama di komunitas, para suster tetap  suster, mereka tidak memperlihatkan dan menonjolkan kehebatan mereka masing-masing.


     Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, Kebersamaan adalah hal yang penting, membangun kebersamaan membuat kita menjadi pribadi yang terbuka, jujur, dan pengasih.









                                                “Pengalaman Yang Meneguhkan”

                                                  (Sr. Klarisa Margaretha Ronga)

 “Selalu Siap Sedia Dan Bekerja Bagaikan Raksasa” itulah yang say hayati dalam komunitas selama saya menjalani masa stage, terlebih dalam karya. Melihat semangat dari para suster di komunitas selalu membangkitkan pula semangat saya dalam menjalani tugas yang diberikan. Pengalaman stage merupakan suatu pengalaman iman yang sangat berharga bagi saya, ada begitu banyak kekayaan  rohani yang saya peroleh yang menjadi bagian dari proses perjalanan hidup panggilan saya.

         Pertama kali melangkahkan kaki di komunitas Walterus muncul segala perasaan yang tak menentu, dan saya bertanya didalam hati saya apakah saya mampu untuk menjalani ini semua atau tidak? Tetapi dengan bantuan Roh Kudus saya Percaya Tuhan selalu menyertai  saya sehingga dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang kuat say bisa menjalaninya.

         Ketika ditugaskan di asrama saya harus melawan rasa takut dan kurang percaya diri sehingga saya mampu untuk menjalani tugas itu dengan baik. Pengalaman saya di asrama Putra membuat saya untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, bijaksana, sabar, tegar, tekun, dan bertanggung jawab. Ada saat  dimana menuntut saya untuk menjadi orang yang bijak dan dewasa, memang sangat sulit untuk menghadapi anak-anak zaman now. Bagi saya butuh perjuangan dan harus menjadi orang yang sabar dan tegar, terkadang berhadapan dengan      anak-anak butuh tenaga yang ekstra karena harus membimbing dan mengarahkan mereka meskipun dari mereka sendiri ada yang cuek, nakal, suka teriak-teriak, keras kepala, dan tukang melawan. Dengan kedewasaan yang say miliki saya dapat membimbing dan mengarahkan  mereka, meskipun terkadang harus mengurbankan tenaga, suara, dan perasaan.
         Masa stage adalah masa dimana saya belajar menjadi seorang suster yang dewasa dan bertanggungjawab. Masa stage juga adalah kesempatan bagi saya untuk melihat, merasakan, dan mengalami secara nyata hidup dalam komunitas karya. Selama menjalani masa stage ada begitu banyak pengalaman yang saya alami yang membuat saya bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, terlebih dalam menjalani panggilan ini.
         Lewat pengalaman-pengalaman iman yang saya alami di komunitas, baik dalam hidup doa, hidup bersama dan hidup karya membangkitkan semangat saya untuk terus maju dalam panggilan ini. Dengan semangat yang diwariskan oleh Pater Mathias Wolff, SJ selalu menjadi motivasi bagi saya untuk menjalani panggilan  ini terlebih dalam melayani  sesama lewat Kongregasi Suster-Suster Jesus Maria Joseph.





                                     “Pengalaman Imanku, Memotivasi Panggilanku”
                                                               (Sr.Paulina )


      Setelah menjalani masa stage ini , saya semakin mengenal diri saya dan panggilan , sekalipun dengan segala keterbatasan dan kemampuan, pengalaman suka dan duka, saya merasa semakin ditumbuhkan dan dikembangkan dalam iman, harap, kasih cinta kepada Tuhan melalui sesama. Saya juga semakin dikuatkan serta dimurnikan dalam iman panggilan agar tetap bersabar, rendah hati, lebih dewasa dalam segala hal serta tetap setia.

       Kehadiran orang lain menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam membantu dan membentuk kehidupan saya agar lebih banyak belajar dari setiap peristiwa maupun pengalaman orang lain. Pengalaman bekerja bersama dengan orang lain dengan segala keunikannya masing-masing membuat saya semakin terdorong  dan tergerak untuk bisa memahami dan menghargai orang lain, serta menolong saya dalam mengenal diri saya karena dari orang lain saya bisa belajar untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri saya.
    Pengalaman ini menjadi suatu pelajaran bagi saya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan serta membiarkan saya yang di panggil-Nya seorang diri dalam setiap perjalanan hidupku. Lewat panggilan-Nya, Tuhan menyatakan cinta-Nya kepadaku yang rapuh dan lemah agar saya lebih berani untuk “Marilah kita bertolak ke seberang danau” (Luk 8:22) untuk melihat, merasakan dan membantu sesama yang lebih rapuh dan lemah dariku serta Yesus menghendaki saya untuk bertolak jauh  lebih dalam lagi dalam menghayati dan menjalani hidup panggilan saya, sehingga mereka dapat tersenyum karena Kristus yang semakin  dalam hidup panggilanku.


“Pengalaman Iman dalam Komunitas”
(Sr.Meylani Wondal)

       Masa stage menjadi satu bagian bermakna dalam perjalanan hidup dan panggilan, sebab saya diberi kesempatan untuk belajar dan mengalami banyak hal tentang komunitas, hidup bersama, dan karya. Kesempatan ini menyadarkan dan membuka mata saya bahwa sebagai seorang religius saya diberi kesempatan untuk berkembang menjadi wanita dewasa, terlebih dalam iman dengan mengabdikan kebebasan dan tanggungjawab kepada Kongregasi demi perkembangan Kerajaan Allah, serta menjadi penyalur cinta Kristus kepada sesama.

    Kesempatan ini yang kemudian menghantar saya untuk penghayatan yang lebih dalam lagi tentang komunitas, doa dan karya. Dalam kesatuan komunitas saya menyadari bahwa komunitas dan kebersamaan ada, bukan karena kehendak manusia semata melainkan kehendak Kristus.Kesadaran ini yang menjadi pendorong bagi saya untuk membangun relasi yang akrab  dengan Kristus melalui doa dan karya yang dilakukan. Sebab kesadaran sebagai milik Tuhan dan bekerja untuk-Nya hanya dapat tetap hidup, apabila saya secara teratur mengadakan pertemuan dengan Dia dan berbicara tentang berbagai pengalaman iman yang saya alami.

     Segala bentuk kesatuan dan relasi dengan Tuhan kemudiaan diwujudnyatakan dalam karya bersama dan dalam komunitas. Saya diarahkan untuk memberi diri bagi karya dan sesama. Tak mudah memang untuk selalu siap dan dapat memberi diri setiap waktu namun melalui semangat Pater Wolff yang diwariskan bagi para susternya “Kesiap sediaan apostolic” yang selalu menyesuaikan diri, tidak lebih tidak kurang dari itu. Itulah yang terus menerus menyemangati diri saya.
     Panggilan hidup yang saya jalani merupakan anugrah dari Tuhan dan juga sebagai persembahan hidupku kepada-Nya. Untuk maksud inilah, hidup yang saya jalani ini tak hanya sekedar mengikuti-Nya melainkan mengabdikan secara utuh kepada-Nya dengan sikap lepas bebas dan taat kepada-Nya melalui apa yang diharapakan Kongregasi dalam hidup komunitas. Masa stage telah membantu saya menghayati teladan Yesus ini yaitu hidup miskin, murni, dan taat melalui cara hidup serta setiap karya yang saya lakukan . Saya menyadari bahwa pengalaman masa stage tidak akan berjalan tanpa suatu tantangan. Namun kesatuan bersama Allah yang senantiasa menopang saya untuk dapat menikmati  dan melakukan segalanya dalam Allah.



                                          "Ibarat Bunga Teratai Dibelakang Biara

                                                          (Sr.Francilia Petra)


       Pengalaman selama dua bulan masa stage, menghantar saya pada sebuah kesadaran untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan atas rahmat panggilan yang telah Tuhan anugerahkan kepada saya. Ada begitu banyak pengalaman iman yang telah membuka pikiran, mata, terlebih hati saya bahwa inilah kenyataan yang harus saya jalani, hadapi, untuk menjadi seorang suster dalam Kongregasi SJMJ. Saya harus menuntut diri saya untuk dewasa dan serius dalam segala hal dan tidak main-main dengan panggilan.

      Hidup Doa, Hidup Bersama, Hidup Karya, menjadi satu kesatuan yang harus saya perjuangkan, karena ketiganya harus berjalan seimbang. Hidup doa menjadi dasar dan pedoman hidup saya, untuk bisa mengeksplorasikan harapan dan cita-cita mulia saya sebagai seorang religius. Doa menghantar saya pada sebuah penglihatan iman bahwa saya harus mensyukuri setiap detik perjalanan hidup yang telah, sementara dan yang akan saya jalani, sehingga dalam setiap pengalaman hidup ini baik dalam hidup karya maupun hidup bersama saya tetap bersatu dengan Allah dan peka terhadap kehadiran Allah.

        Hidup bersama itu indah dan menyenangkan, ibarat bunga teratai yang terdapat tepat dibelakang biara. Keindahan bunga ini sangat memukau dengan setiap orang  yang memandang akan terpesona dengan keindahannya. Daun, batang, dan bunga berpadu menjadi satu memberikan nuansa yang sangat indah, begitupun dengan hidup bersama yang boleh saya alami dan rasakan bersama ketiga suster yang ada di komunitas karya tempat saya stage. Hidup bersama adalah hidup dimana saya dapat menerima dan memahami orang lain, hidup saling menguatkan, melayani, mendukung dan saling mengingatkan.
        Saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan ini, karena kurang lebih empat tahun saya dibentuk, dibina, dibimbing dalam proses pembinaan, kini saya boleh mengalami dengan nyata hidup berkomunitas dalam komunitas karya yang semakin membuka pikiran dan hati saya untuk lebih serius. Masa stage ini bukan menjadikan tempat untuk saya belajar, namun bagi saya masa stage ini adalah hasil dari perkembangan diri saya, saya dapat mengukur sejauh mana saya telah bertumbuh dalam hidup doa, hidup bersama, dan hidup karya. Melaui pengalaman masa stage ini, semakin mendewasakan saya untuk berpikir dan bertindak, semakin menjiwai nilai-nilai luhur dari Pater Pendiri yang semakin memotivasi saya untuk harus tetap semangat, bekerja keras, dan terus berjuang.





                              “Betapa Mulia Menjadi Pengikut Tuhan”                                                                                       (Sr. Agatha Iluh Tanjung)

Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah menuntun saya selama masa stage ini. Setelah menjalani kenyataan hidup dalam komunitas karya, saya merasa sungguh mengalami dan merasakan Yerusalem yang sesungguhnya. Saya merasa semakin diuji untuk lebih tekun dan selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal, peka, jujur, terbuka, dapat lebih sabar dan bertanggungjawab. Perjumpaan saya dengan sesama, baik para suster maupun para pegawai dalam  karya kerasulan merupakan bagian dari hidup saya, karena merekalah saya dapat berkembang dalam panggilan hidup yang telah diberikan Allah dengan cuma-cuma. Pengalaman suka dan duka yang saya alami, menjadikan saya kuat dalam pengabdian kepada sesama.
        Hidup bersama dalam komunitas ternyata tidaklah mudah. Diperlukan usaha dan perjuangan yang besar. Kegagalan dan keberhasilan dalam komunitas menjadi warna yang nyata dalam hidup berkomunitas. Karena dikumpulkan dari berbagai macam budaya, dan adat istiadat yang berbeda maka kehidupan komunitas tidak selalu mulus. Dengan kekuatan Doa, saya mampu melewati masa stage dengan baik. Dua bulan adalah waktu yang singkat bagi saya untuk memahami dan merasakan hidup berkomunitas. Apalagi saya berada dalam komunitas kecil komunitas “Cantia”. Namun lewat pengalaman bersama para suster dalam komunitas, memberikan saya gambaran nyata bagaimana hidup bersama di komunitas karya.
         Lewat pengalaman masa stage, saya disadarkan bahwa setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan dan hal itu perlu di syukuri sebagai rahmat Tuhan. Dalam hidup bersama kelebihan dan kekurangan itu bukan untuk bersaing satu dengan yang lain, melainkan untuk saling melengkapi satu sama lain.
Pengalaman yang saya dapatkan dalam komunitas “Cantia”, lebih membuka cara berpikir saya kedepan. Karena segala karya Kongregasi ada di tangan kami semua para tunas muda. Kami harus bekerja keras seperti para suster agar semua karya Kongregasi semakin berkembang di tengah dunia yuang semakin canggih.
Pengalaman masa stage sungguh menumbuh kembangkan keyakinan saya untuk terus berjuang dalam panggilan, dan membuat saya semakin mantap dan yakin dalam keputusan untuk menjadi pengikut Tuhan dalam Kongregasi SJMJ.




English Corner


                                                                                            Faith to From Spiritual Personality
Sr. Bertha Onyaresepan

I am with every present limited
Not with offer my self
still faith within make grow become somebody
With so save the key still the more near with God,
And pray is the way to be happier always.
God will be waiting the answer,
Since with prayer, God will be listen.


 
God is A Lamp
Sr. Fransiska Nahas

God is a Lamp to light my path
When I cannot see
He makes the darkness turn to morn
My God is a leading me
His comfort with the Road and Staff
He gives courage along the way
God is A Lamp to lightmy path
I need to trust obey
And when it seems the darkest night
And I cannot find my way
I hear to His whisper it’s all right
Just look to me and pray
Soon it will be morning, the sun will rise
Night will be lost
God is A Lamp to be light my path
Till I reach that shining shore


”Strong Women”
Sr. Rosalina
Strong women hard work everyday for caution of Body
Give that better from our self to other
Don’t be afraid not feel anything
Not let others people more exploit in our self


  Christmas is Coming
Sr. Debora Jeisye

The first Christmas in Noviciate
It’s so wonderfull for me
When I feel the Christmas day will be come
Baby Jesus will be born
One year I was waiting for Christmas day
And now my heart is beating so fast
Together with all novices we prepared all things
To praise and glorious God Name
Thank You God for everything in my life
Thank You for calling me to be Your servant
Thank you for give me a beautifull day everyday…..

                                   


"Kronik"
 


November 2018

            Tanggal 07
Hip,,Hip,,Hura,, Happy Birthday to you!!! Hari ini ada yang berulang tahun nih.. Suster Pembimbing kami JJ Tapi sayang sekali saat ini suster sedang retret kami belum bisa merayakannya bersama. Kami hanya bisa doakan suster dari sini saja. Happy Birthday Sr. Hildegardis Mau, SJMJ. Panjang umur, sehat selalu suster.


            Tanggal 17
Hari ini ada yang berulang tahun loh.. Sr. Sovia Vivi namanya.. Happy Birthday yah,, Panjang umur, sehat selalu tetap setia menjalani panggilan yah…

                       

Desember 2018

                        Tanggal 01
Hari ini kakak-kakak novis tahun kedua memulai masa POM mereka selama 2 pekan. Sepi lagi novisiat ini, kami novis satu merasa sedih terpisah lagi dengan mereka,,, cieee illeee rupa tu betul jow sampe segitunya,, hehehe memang betul katu eghh.. JJ Semangot yoo!! Kakak-kakak,,, dede-dede novis satu menunggu kedatangan kakak-kakak.. hehhe  ^_^

Tanggal 08
Hari ini adalah Hari raya Maria dikandung Tanpa Noda, pelindung para novis. Hari ini adalah hari special bagi kami para novis dimana kami melihat kembali pribadi Bunda Maria yang rendah hati, sederhana, lemah lembut, dan tentunya sangat menyayangi anaknya. Begitupun Ibu kami dirumah, kami dibesarkan dan disayangi oleh mereka. Seperti Bunda Maria yang membesarkan Yesus. “Selamat Pesta Pelindung Para Novis”.

                        Tanggal 14
Hari ini kami sangat bahagia, karena kakak-kakak kembali lagi dan berkumpul lagi dengan kami. Kaka-kakak novis 2 kembali dengan selamat dan sehat-sehat dengan membawa borongan mereka masing-masing yang diberikan oleh orang tua POM mereka. Wah banyak sekali berkat yang diberikan. Tuhan Memberkati Mereka semua. 

 Tanggal 17
Hip,,hip,,hura,,,, Happy B’day Sr. Rosalina. Ulang tahun pertama di novisiat memang mendebarkan. Tetap semangat yah,, panjang umur dan sehat selalu tetap setia dengan panggilan Tuhan ini yah.. 

                       
                                                                                    By : Sr. Debora Jeisye


 



                 HAPPY BIRTHDAY

            Januari
























1 Sr. Nicola Sri Utomo
6 Sr. Maria Makalew, Sr. Charistine Werwdity
7 Sr. Yolinda Apolinali Bauntal


8 Sr. Maria Gorreti Asten, Sr. Yasinta Sondakh 
Sr. Seraphina Runtu (Sta Anna Lembean)
9 Sr. Yulita Dammen 



12 Sr. Mariana Mbasal



Sr. Hiraria Rumping, Sr. Jansi Pangkey
14 Sr. Yuliana Bano



18 Sr. Jessica Agahta Rumambi (Novis )

19 Sr. Paulina Ponomban


25 Sr. Gratia Faustina Tumbelaka

Sr. Maria Cecilia Hoke (Novis )

26 Sr. Cresentia Paretta



30 Sr. Jeannette Runtu



Sr. Hetwika Maweikere


31 Sr. Vinsensia Siunta, Sr. Katarina Karepangan
Sr. Marie Louise Maitimo (Sta. Anna Lembean)












































































































































































































































LAVITA DOLCE EDISI 2021

  LAVITA DOLCE   JUNI 2021     https://noviciatesjmj.wordpress.com/ https://noviciatesjmj.wordpress.com ...